Category Archives: wisata

Of Mountains and Cowbells

Dan berakhirlah sudah Eurotrip di tahun 2012 ini. Saya baru saja kembali dari solo trip pertama kedua (trip yang ini dihitung solo trip juga dong ah) hari Rabu lalu. Jadi begini latar belakangnya. Sepulang dari trip Berlin yang agak busuk, saya menelaah kembali motivasi travelling saya. Bepergian ke kota besar hanya untuk melihat patung dan bangunan tua rasanya tidak membawa kesenangan apapun. Lalu Bu Mia yang sepertinya sudah bosan mendengar saya ngedumel di Berlin mengusulkan saya bepergian ke Swiss. Menggoogle “where to go in Switzerland,” saya menemukan suatu destinasi bernama Grindelwald; bukan Gellert Grindelwald seperti yang di Harry Potter melainkan sebuah desa kota kecil yang pemandangannya terlihat majestic. Belakangan saya memutuskan buat tinggal di desa di dekatnya, Lauterbrunnen, karena katanya si Grindelwald ini agak touristy.

Highlight di daerah sekitar situ adalah railway trip ke Jungfraujoch, yang katanya stasiun kereta tertinggi di Eropa. Melihat banyaknya review bintang 5, tadinya saya memutuskan ke situ juga. Setelah dihitung-hitung, bakal lebih murah (tapi ga banyak) kalau saya beli Swiss Pass 4 harian yang ngasih diskon untuk tur Jungfraujoch. Belakangan, saya agak ragu dengan tur ini. Pasalnya naik kereta ke atasnya aja udah 3 jam, bolak-balik 6 jam. Di atas dingin, yang berarti saya harus bawa baju tebal.

no scholarship money this month

Pertengahan Juli saya mendapat email dari konsorsium, memberitahu bahwa pada akhir bulan tersebut (Juli) saya akan mendapat scholarship payment terakhir untuk bulan Agustus. Ya sudah, saya pun berfoya-foya beli tiket pesawat dan Swiss Pass. Nyatanya sampai masuk bulan Agustus saldo rekening saya belum juga bertambah. Dan setelah proses yang menyakitkan, saya menemukan bahwa memang tidak ada uang beasiswa lagi untuk saya bulan ini. Fuuu.

Sudah terlanjur, ga mungkin juga ga berangkat. Tapi berarti harus ada perubahan rencana. Jungfraujoch resmi batal. In general, less trains and more hikes, hoho. Without further ado, beginilah rangkaian perjalanan saya.

Day 1: Perjalanan

Yang melibatkan perjalanan naik sepeda, kereta, pesawat, dan kereta lagi. By the way saya agak bangga bisa sampai situ tanpa nyasar atau salah naik kereta. Sampai sana sudah sore, jadi tidak banyak yang saya lakukan.

Day 2

Paragliding

Yeah, memang ini tujuan utamanya, hihi. Infonya bisa dilihat di sini. Bisa terbang dari Grindelwald atau Lauterbrunnen. Yang di Grindelwald lebih tinggi, namun sayangnya lebih mahal. Tentu saja saya milih yang murahan. Dari Lauterbrunnen naik funikular ke Grutschalp, lalu di situ mendaki sedikit kira-kira 5 menit menuju tempat takeoff. Yang harus dilakukan hanyalah berlari sekitar 3-5 langkah, lalu langsung terbang deh. Begini pemandangan dari atas.

Rasanya? Hmm, beberapa detik pertama rasanya excited sekali. Setelah itu… menyenangkan sih, tapi saya mengharapkan sesuatu yang lebih memacu adrenalin (wokwok, sombong).

Hiking Lauterbrunnen-Stechelberg

Ini rute hiking yang mudah dan datar. Di rute ini saya melewati Staubbach fall and Trummelbach fall. Untuk masuk ke Trummelbach fall sayangnya harus bayar 11 CHF. Tadinya sempet ga mau masuk (pelit memang) tapi masa sih sudah jauh-jauh jalan ga masuk.

All in all, pemandangan di rute hiking ini cukup bagus untuk membuat saya ingin hidup tenang di desa, memandangi gunung dan mendengarkan bunyi sungai mengalir.

Summary:
Jarak: 6.5 km
Waktu: 1 jam 45 menit
Pemandangan: 8/10
Tingkat kesulitan: mudah (jalan datar doang kok)

Hiking Murren – Grutschalp

Ini juga rute hiking yang datar, bersisian dengan rel kereta. Cukup banyak orang yang hiking di rute ini (saya berpapasan dengan sekitar 10 orang).

Summary:
Jarak: 4 km
Waktu: 1 jam 30 menit
Pemandangan: 8/10
Tingkat kesulitan: mudah

Day 3

Nah di sini tingkat kepelitan sudah mencapai level severe. Swiss Pass saya cuma memberi akses gratis sampai Grindelwald, kalau lebih tinggi dari itu hanya dapet diskon 25% atau 50%. Jadi inilah yang saya lakukan: naik gondola dari Grindelwald ke First (16 CHF sudah didiskon) lalu mencari jalur hiking buat turun. Begini pemandangan dari gondola:

Hiking First – Bachalpsee

Sampai di atas, pemandangannya breathtaking sekali. Dari stasiun gondola bisa mencapai danau Bachalpsee dengan sedikit hiking. Di rute ini banyak Alpine flowers dan sapi yang loncengnya terdengar dari jauh. Ini mungkin rute hiking favorit saya.

Summary:
Jarak: 3 km
Waktu: 50 menit
Pemandangan: 10/10
Tingkat kesulitan: rata-rata

Hiking Bachalpsee – Waldspitz

And so the adventure begins. Kebanyakan turis balik lagi dari Bachalpsee ke First. Namun karena hobi saya adalah nyari masalah, saya berencana hiking turun. Berbeda dengan jalur sebelumnya yang berupa aspal atau pasir berketikil, jalur kali ini agak sempit, berbatu-batu, dan menurun. Yang membuat khawatir adalah sepanjang 30 menit pertama perjalanan, saya tidak bertemu seorangpun di depan atau di belakang saya. Jadi kalau saya cedera atau nyasar, kayanya ga bakal ada yang tau. Satu-satunya yang menunjukkan bahwa itu rute hiking hanyalah batu yang dicat putih-merah-putih. Tapi saya lumayan suka rute ini, pemandangannya cantik sekali. Seandainya saja ada temennya…

Summary
Jarak: ?
Waktu: 40 menit
Pemandangan: 9/10
Tingkat kesulitan: sulit

Hiking Waldspitz – Bort

Saya benci hiking trail ini. Kalau sebelumnya berjalan di lahan terbuka, kali ini saya harus jalan di tengah hutan. Well ga hutan juga sih, dikelilingi pepohonan deh intinya. Yang memberatkan adalah rutenya yang konstan berupa turunan curam. Rasanya lutut menahan beban berat saat turun. Karena takut cedera, menapaknya harus pelan-pelan sekali. Yang ada di pikiran saya hanyalah put your foot in front of the other one.

Summary
Jarak: ?
Waktu: 45 menit
Pemandangan: 7/10
Tingkat kesulitan: amat sangat sulit sekali

Hiking Bort – Grindelwald

Sampai di Bort, saya sudah kelelahan, kepanasan, dan lapar. Mau naik gondola aja, tapi rasanya tanggung. Jalannya masih menurun curam, tapi paling tidak sudah beraspal. Plus sudah banyak rumah penduduk dan ada beberapa hikers lainnya.

Summary
Jarak: ?
Waktu: 1 jam 10 menit
Pemandangan: 8/10
Tingkat kesulitan: rata-rata

Sampai Grindelwald rasanya sudah nyaris mati. Masih ada sensasi jalan menurun meski jalanannya sudah datar. Untungnya tinggal naik kereta balik ke Lauterbrunnen.

Day 4

Pesawat saya masih jam 7 malam, berarti masih banyak waktu buat… hiking lagi, hoho. Kali ini saya meninggalkan wilayah Jungfrau menuju Kandersteg. Pagi-pagi berangkat, titip luggage di stasiun, lalu mulailah mendaki ke atas menuju lake Oeschinen.

Hiking Kandersteg – Oeschinensee

Oke, kalau hari sebelumnya saya kenyang turun gunung, kali ini saya harus mendaki. Lagi-lagi jalurnya sepi. Sekali dilewatin mobil, sekali dilewatin mbak-mbak yang lagi lari (I don’t know how she did that). Terlepas dari itu, saya sendirian most of the time, no one in sight. Setelah kira-kira setengah jam barulah saya melihat hikers lainnya di depan saya: sepasang muda-mudi. Jadinya saya ngikutin mereka sampai ke danau. Kayanya asik juga hiking bareng pasangan. Anyway pokoknya saya sangat kelelahan sehingga memutuskan turun naik gondola saja.

It’s a funny thing, but when I got there, staring at a lake so majestic, sitting in the shade eating my apple, with Call Me Maybe playing on my iPod, my tiredness left me. Jadi terpikir buat hiking turun. Untungnya akal sehat saya menang, terutama karena terpikir saya masih harus naik kereta, terbang, naik kereta lagi, dan sepedahan pulang. Jadinya dari atas saya naik gondola balik ke Kandersteg.

Summary
Jarak: ?
Waktu: 1 jam 15 menit
Pemandangan: 10/10
Tingkat kesulitan: sulit

Back in Groningen

Jam sudah menunjukkan pukul 1.30 pagi ketika saya sampai di Groningen. Setiap kayuhan sepeda terasa sangat melelahkan. Untuk menjaga diri supaya tidak ketiduran di sepeda, saya pun sing along lagu yang sedang dimainkan di iPod: Colours by Grouplove. Sayangnya ketika sedang nyanyi ada mas-mas yang mendahului saya. Siaul, jadi malu, kirain cuma saya sendirian yang sepedahan tengah malem.

Begitulah solo trip saya. I’m glad I did it, meskipun sekarang badan saya masih pegel-pegel. By the way, postingan ini ditulis ketika saya sedang menunggu jemputan teman saya untuk… jalan-jalan lagi, hehe.

Advertisements

tentang Bruges

Sebaiknya cerita ini ditulis sebelum basi. Jadi ceritanya saya sedang muak sekali dengan tesis dan in desperate need of a break. Akhirnya memutuskan buat jalan-jalan dadakan ke tempat yang dekat-dekat saja. Sejak nonton In Bruges, saya selalu pengen mengunjungi Bruges, jadi kenapa tidak?

Ngomong-ngomong, saya pergi sendirian. Entah bisa dihitung solo trip atau tidak, karena mainnya masih di sekitar sini dan negara tetangga, jadi mungkin kurang menantang. Rencana saya adalah menghabiskan Selasa sampai Rabu siang di Belanda, lalu Rabu siang sampai Kamis di Belgia. Namun seperti yang akan diceritakan sebentar lagi, rencana ini uh… tidak berjalan dengan baik. Hari Selasa sampai Rabu pagi tidak penting diceritakan karena masih di Belanda, jadi ya begitu-begitu doang.

Rabu siang seharusnya saya naik kereta dari stasiun Den Haag HS ke Antwerpen Centraal, lalu dari Antwerpen Centraal ke Bruges. Terdengar mudah kan? What can possibly go wrong? As it turns out, a lot.

Terdampar di Vlissingen

Selagi duduk manis menunggu di staiun, ada pengumuman bahwa kereta Den Haag – Antwerp jam itu dibatalkan. Kalau harus menunggu kereta yang sama di jam selanjutnya kan males (meskipun kalau tau akhir cerita ini, mending nunggu sejam di stasiun), jadi saya menghampiri seorang petugas buat mencari tau alternatif tercepat ke Antwerp.

Petugas: you can take the next train, destination Vlissingen, and then change to Antwerp.
Saya: and where should I change the train?
Petugas: in Vlissingen!

Ya sudah saya naik kereta tersebut. Salah satu pemberhentian sebelum Vlissingen adalah Roosendaal. Sesaat sebelum berhenti di stasiun Roosendaal saya sempat curiga. Pasalnya di jalur mobil ada papan petunjuk mengarah ke Antwerp, berarti kan Antwerp sudah dekat. Apa jangan-jangan saya harus turun di Roosendaal dan bukannya Vlissingen? Namun saya terlalu malas mencari tau karena beberapa alasan sebagai berikut:

  1. Keretanya ga ber-wifi
  2. Situs ns.nl kurang bersahabat dengan browser Nokia ataupun Opera Mini di hp saya
  3. Kalaupun benar di Roosendaal, kan selalu bisa balik lagi naik kereta
  4. Saya terlalu ngantuk buat khawatir
  5. Alasan utama: I had a complete and utter trust terhadap si petugas.

Nyatanya, dari Roosendaal ke Vlissingen itu masih sejam, jadi alasan nomor 3 tidak semudah itu dilakukan. Sampai di Vlisssingen… I knew I was fucked up. Sama sekali tidak mungkin ada kereta ke Antwerp di tempat terpencil seperti itu. In fact, kotanya bener-bener sudah di ujung daratan sehingga satu-satunya jalan yang mungkin diambil adalah arah sebaliknya, yang mana keretanya masih sejam lagi. Sambil berusaha stay cool (it was fucking hot), saya pun memutuskan buat jalan-jalan di sekitar situ demi membunuh waktu. Under more fortunate circumstances, saya mungkin bakal suka kotanya. Hari itu, tapinya, saya hanya duduk merana di pinggir laut sambil menyesali nasib dan menulis di jurnal.

Terdampar di Antwerp

Setelah sejam menunggu di Vlissingen, sejam Vlissingen – Roosendaaal, dan 30 menit dari Roosendaaal, akhirnya saya sampai juga di stasiun Antwerpen Centraal. Masalah belum selesai. Jadi menurut catatan saya, harusnya di situ naik kereta di platform 2 tiap menit ke-18. Nyatanya pas saya sampai di platform tersebut, kereta pada jam yang sama tujuannya adalah St. Niklaas. Sama sekali tidak ada tanda-tanda pemberhentian di Bruges. Akhirnya saya melakukan hal terbodoh selanjutnya: bertanya kepada petugas.

Kurang lebih beginilah yang dikatakan si petugas untuk mencapai Brugge:

  1. You need to take the train from platform 10
  2. You need to change train in the other Antwerp station
  3. Hurry up, you only have two minutes!

By the time saya mencapai platform 10, sebenarnya agak ragu-ragu. Namun peluit sudah ditiup dan pintu hampir ditutup dan saya pun membuat keputusan kilat buat naik. Setelah duduk di kereta saya mengintip jurnal saya lagi yang isinya catatan pemberhentian menuju Bruges. Daaaan… ternyata memang tujuannya St Niklaas, lalu baru ke Bruges. Jadi sudah benar yang di platform 2 tadi, tuyul.

Oke, bukan masalah besar. Saya pun turun di stasiun Antwerp-Zuid, kereta yang benar harusnya lewat situ juga. By the way, di stasiun itu jadwal keretanya cuma kertas yang ditempel di tiang listrik. Kalau di Indonesia itu biasanya isinya iklan badut atau kursus Facebook. Menurut jadwal di tiang listrik, harusnya kereta yang benar akan datang dalam waktu 8 menit. Tebak berapa lama sampai ada kereta yang datang? 50 menit!

Terdampar di stasiun Bruges

Saya sampai di stasiun Bruges 4 jam terlambat dari jadwal seharusnya, dan begini keadaannya:

  1. Cuaca: hujan dan matahari sudah terbenam
  2. Tourist info sudah tutup
  3. Vending machine buat peta menelan uang saya tapi ga ngasih peta (bukan saya yang gaptek lho, karena saya dibantu turis lainnya)
  4. Worst of all: bus menuju ke hostel sudah tidak beroperasi, fuu. Gimana dong?

Begini, seandainya punya peta, saya bakal jalan ke hostel meskipun sudah gelap dan hujan. Lalu, seandainya belum gelap, saya bakal jalan ke hostel meskipun ga punya peta dan hujan. Tapi malam itu saya terpaksa naik taksi, untuk pertama kalinya di tahun ini. Setelah menghabiskan setiap menit melirik argo (kena deh 11.50 euro), akhirnya sampai juga di tempat bermalam. Malam itu sebelum tidur saya berpikir, Dear Brugge, I went through a lot of pain to get to you, please treat me well.

Bruges

And it did treat me well. A picture paints a thousand words, silakan.

Belfry Tower
The view from the top of Belfry Tower
The famous dog looking out from the window

 

Praha

Setiap akhir Mei, seluruh mahasiswa LCT dari berbagai penjuru dunia (karena meskipun judulnya European master’s programme, 2 universitas dari benua lain juga tergabung di program ini) berkumpul buat acara yang namanya students’ day dan wisuda. Tahun ini tempat berkumpulnya di Praha. Postingan ini bukanlah ulasan tentang Praha, melainkan omong kosong seperti biasa.

Senin

Jadi ceritanya saya sudah harus berada di stasiun jam 7 pagi. Namun ternyata hari Senin itu adalah hari libur nasional; bus beroperasi lebih siang dari biasanya, yang artinya saya harus sepedahan ke stasiun. Dilema bawa-laptop-atau-tidak terselesaikan sudah karena susah juga bawa bagasi banyak-banyak sambil sepedahan. Sepeda ditinggal di universitas, tidak lupa dikunci, dirantai, dan didoakan tidak dicuri.

Bersama 3 tuyul LCT Groningen lainnya, menuju ke airport Eindhoven, terbang ke Praha, dan menuju hotel. Sampai situ tidak ada yang seru. Hotelnya terletak di daerah suburban yang pemandangannya cukup mengecilkan hati. Sekitar jam 3 siang, beranjak menuju city centre. Sebelum ini saya membayangkan Praha seperti kota tua yang agak bernuansa mistis, nyatanya yaaahh ga begitu mistis dan sangat touristy. Berikut Charles Bridge dan pemandangan dari Charles Bridge.

Jalan ke Astronomical Clock dan Old Town Square lalu nurutin tuyul-tuyul ke Prague Beer Museum. Apa yang bikin mereka hobi sekali duduk-duduk di bar sampe pagi, saya juga ga tau. Untungnya kali ini ga sampe pagi, karena jam 9 janjian ketemuan dengan tuyul LCT lainnya. Berikut foto tempat ngumpulnya. Mohon maaf saya lupa namanya. Sampai di sana pertama ketemu dengan rombongan LCT Melbourne. Berhubung kami semua baru kenal dengan rombongan Melbourne, jadinya: 1) topik percakapan adalah basa-basi tentang bahasa dan 2) topik percakapan adalah basa-basi tentang tesis, sehingga saya dan teman saya sepakat kabur, hehe.

Selasa

Entah siapa yang mengajukan ide buat mengadakan workshop sebelum graduation ceremony. Sudah lama ga duduk di kelas dan rasanya sulit sekali berkonsentrasi. Terlepas dari workshop, acaranya lumayan menyenangkan karena hari itu adalah pertama kalinya ketemu seluruh tuyul LCT, termasuk yang dulu barengan di Malta. Jadinya, alih-alih ikutan excursion ke perpus buat melihat suatu sistem yang tidak terdengar menarik, kami malah jalan-jalan ke taman dan reunian di pinggir sungai.

Anyway. Melihat orang-orang diwisuda, rasanya jadi agak gimana gitu. Di satu sisi, jadi bertekad buat jadi salah satu orang yang diwisuda tahun depan. Di sisi lain, jadi agak terintimidasi karena rasanya masih banyak sekali yang harus dikerjakan sebelum bisa lulus.

Rabu

Seperti sebelumnya, saat students’ day ada presentasi dari semua universitas tentang kehidupan masing-masing, dan presentasi Groningen tentu saja, isinya tentang how to bike in the rain, huhu. Selain itu, entah ide siapa pula, ada sesi presentasi tentang tesis bagi yang bersedia. Jadi minder.

Kalau hari sebelumnya excited karena bisa berkumpul dengan tuyul-tuyul lainnya, hari Rabu itu saya sudah capek bersosialisasi. Rasanya tidak ada yang penting lagi untuk diceritakan.

Kamis

Acara LCT berakhir sudah, tapi flight saya masih jam 5 sore jadi masih ada waktu buat jalan-jalan. Berhubung tidak ada acara, para tuyul bangunnya siang, sementara saya yang ga betah kalau diam saja pagi-pagi mendapat ide brilian buat jalan kaki di sekitar hotel selama sejam. buhuhu. Dengan kaki pegal, beranjak ke Prague Castle bersama serombongan tuyul. Pemandangan dari atas lumayan bagus, tapi ga masuk ke kastilnya karena tiketnya mahal (350 czk, meskipun harusnya ada diskon buat pelajar).

Makan siang di suatu restoran, saya minum doang sementara para tuyul mesen makanan aneh-aneh. Salah satunya adalah suatu potongan daging yang ukuran seporsinya kira-kira sama dengan seekor ayam. Saya ragu saya bakal pernah doyan makan daging lagi setelah melihatnya. Menu tersebut jugalah yang bersalah atas singkatnya sisa waktu jalan-jalan. Dengan sisa waktu 45 menit, 1 orang dan 4 tuyul bergegas menuju Petřínská rozhledna atau Eiffel Tower mini. Saya lebih suka menara ini ketimbang Eiffel betulan, mungkin karena lebih mudah dipanjat, hihi. Berikut pemandangan dari atas.

Saat berada di atas situlah saya memutuskan bahwa saya suka Praha. Sayangnya waktu sudah menunjukkan jam 3, saatnya beranjak menuju airport. Meninggalkan para tuyul yang baru akan pulang keesokan harinya, saya pun lari-lari ngejar metro/bus.

Sampai di airport, ternyata flightnya delayed. Yahhh, tau gitu tadi sempet ke Mirror Maze dulu. Setelah penantian yang panjang, akhirnya mendarat di Schipol, disambut hujan dan awan kelabu tebal. Sesampainya di Groningen, cuaca tidak membaik. Hujan semakin deras dan rupanya orang-orang sudah balik memakai coat lagi (saya cuma berbekal cardigan). Sempat kepikiran buat naik bus saja dari stasiun ke rumah, tapi khawatir juga kalau meninggalkan sepeda semalam lagi. Akhirnya jalan di tengah hujan dari stasiun ke kampus lalu menerapkan isi presentasi Groningen: how to bike in the rain.

Sesampai di rumah, saya langsung jalanin eksperimen tesis. Lalala.

perjalanan kemarin

Weekend ini bisa dibilang cukup eventful. Uhuhu. Begini ceritanya. Hari Jumat, saya janjian ketemuan dengan beberapa teman Indonesia di Amsterdam. Rencananya mau jalan-jalan sebentar di sana, lalu berkunjung ke Keukenhof, lalu terbang ke Berlin. Sounds like an innocent plan, huh?

Nyatanya siang itu saya mengalami cedera lutut yang cukup menyakitkan. Alhasil jalan kaki di Amsterdam, yang termasuk ke dalam one of my least favourite cities in this world, cukup membuat saya nelangsa. Tapi terus berlanjut ke Keukenhof. Tidak se-excited tahun lalu, terutama karena pohon-pohonnya masih belum berdaun, tapi lumayan juga lah.

Image

Image

Setelah Keukenhof, derita di lutut semakin menyiksa sampai-sampai saya sempat mempertimbangkan buat membatalkan Berlin dan pulang ke Groningen sore itu juga. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya rencana untuk membatalkan dibatalkan (semoga kalimatnya tidak membingungkan). Jadilah saya menginjakkan kaki di Berlin untuk pertama kalinya.

Nah kalau disuruh cerita tentang Berlin (tentu saja tidak ada nyuruh), bakal panjang ceritanya. Jadi saya bikin poin-poin saja sebagai berikut:

  • Berlin adalah kota besar (oh yaa?), yang berarti penuh dengan orang-orang, keramaian, kesibukan, sistem transportasi canggih, gedung-gedung tinggi, and other things that do not fit my idea of a holiday.
  • In many ways, kota ini mengingatkan saya akan Paris. Dalam artian, tempat wisatanya bukan jenis yang saya sukai, i.e. patung-patungan, gerbang-gerbangan, menara-menaraan, dll. Bedanya, Paris masih menang berkat Shakespeare and Co. Dan meskipun overrated, Eiffel tower is not ugly either.
  • Horrible weather. Bangun pagi disambut langit kelabu, dilanjutkan dengan angin kencang dan hujan es, ditutup dengan salju. Bagoos.
  • Next time pergi travelling, make sure your body is in perfect condition. Hari Minggu akhirnya saya tinggal seharian di hotel karena tidak ingin menyakiti si lutut lebih jauh lagi. Tidak ada patung yang lebih berharga dibanding lutut saya.
  • Yeah but even with healthy knees and blue skies without a single cloud in sight, I very much doubt I would like the city.
  • Apakah saya menyesal mengunjungi Berlin? Ehm, jawaban bijaknya sih, setidaknya kunjungan ini memberi suatu pelajaran buat saya. Namun jawaban yang tepat seharusnya berupa “ya” atau “tidak”. Dan kalau mengingat jumlah uang yang keluar buat trip ini, rasanya pengen jambak-jambak rambut.
  • Tapi tentu saja ada pelajaran yang bisa dipetik dari setiap perjalanan. Memang sih mikirnya: mumpung lagi di Eropa dan punya dana, manfaatkanlah buat menjelajah. But there’s a limit to how far you can expand your comfort zone. Saya tidak pernah suka kota besar dan keramaian, so I should have known better than to go to this city from the first place.
  • A positive thing, finally: train ride from Berlin to Groningen. Keluar dari Berlin, muncullah pemandangan favorit saya: padang rumput, ternak, dan kincir angin. Setelah kurang lebih 4 jam, kereta pun memasuki lahan Belanda, terlihat dari meningkatnya jumlah domba dan sepeda. Yang paling penting, I’m back in my favourite city now.

jalan-jalan awal tahun

Berhubung liburan akan segera berakhir, kemarin saya memutuskan untuk jalan-jalan sedikit. Dengan siapa? Sendiri saja, karena saya tidak punya teman teman-teman saya masih di negaranya masing-masing, buhuhu.
Tujuannya adalah Leiden, kota yang ternyata cantik sekali. Tidak jauh dari stasiun, ada dua kincir angin: Molen de Valk dan Molen de Put. Yang di bawah ini adalah foto Molen de Valk. Selain itu, banyak kafe cantik di sisi-sisi kanal yang dihubungkan oleh jembatan-jembatan yang juga cantik. Berhubung mendung dan hanya sendirian (buhuhu), fotonya hanya sedikit (dan jelek).
Dari Leiden, mampir ke Utrecht. Di sini saya menuju Museum Speelklok, museum instrumen musik mekanik seperti music box, street organ, dll. Pengunjungnya… mostly children ^^. I don’t really know what it was, probably the music, or how the children danced when they played the music boxes, or how everything was so colorful, but during that one-hour visit I felt so happy. Ini salah satu tempat yang harus dikunjungi kalau ke Utrecht.
 
Sambil nunggu kereta pulang, saya iseng-iseng memasuki toko CD di stasiun Utrecht Centraal, and guess what I found! Yes, I’m still in these episodes of adoring a bald Belgian singer/songwriter. Album North and South sebenarnya saya beli di Groningen, tapi dua album lainnya tidak bisa ditemukan di kota ini. These must be the first CDs I bought since 2006.
 

Comino

Setelah hampir 8 bulan tinggal di Malta, baru kemarin saya jalan-jalan ke Comino, huhu. Comino adalah sebuah pulau tak berpenghuni di dekat pulau utama Malta. Panjang pulaunya cuma sekitar 2 km, tapi konon katanya pantainya indah sekali.

Jadi kemarin saya bersama teman-teman saya Farina dan Milos menyempatkan diri pergi ke sana.  Sebenernya bisa naik ferry turis dari Sliema, 30 eur untuk tur Gozo-Comino, tapi berhubung kami pelit dan katanya Gozo juga ga menarik, akhirnya memilih opsi yang lebih murah. Naik bus nomor 145 ke Cirkewwa (tiket 58 sen, lama perjalanan sekitar 45 menit), sambung ferry (tiket 10 eur bolak-balik, lama perjalanan sekitar 20 menit).

Dan sesampainya di sana… Subhanallah, memang bagus sekali sodara-sodara. Airnya jernih dan bersih. Berikut beberapa barang buktinya.

DSC01866 

DSC01873

DSC01874

DSC01883

DSC01887 

Sebelum menikmati pantai, saya dan teman-teman sepakat menjelajah pulaunya dulu. Awalnya sih masih menarik, tapi lama-lama cuma ada bebatuan doang T_T. Jadi saran saya buat yang mau ke Comino, tidak usah jalan-jalan di pulaunya, langsung nyebur saja ke laut.

Saya sendiri, berhubung ga bawa baju renang dari Indo dan ogah banget jadi satu-satunya orang yang nyebur dengan pakaian lengkap (padahal kalo di Indo mah normal-normal saja, huhu), tetap duduk di bebatuan ditemani buku The Penderwicks, MP3 player, dan sekotak brownies buatan sendiri, hoho. Teman-teman saya, entah kelewat sopan atau memang laper, memuji dan menikmati dengan lahap (yang sebenarnya bukan sesuatu yang perlu dibanggakan, berhubung saya bikinnya dari adonan siap pakai, haha).

DSC01917

Kesimpulannya, acara jalan-jalan kemarin sangat memuaskan dan Comino sangat worth it untuk dikunjungi.

DSC01920

cerita Eurotrip

Malam ini, suasana hati saya tidak begitu baik. Mungkin karena baru saja pulang liburan dan harus kembali ke tumpukan PR. Mungkin karena habis berkumpul kembali dengan teman-teman semasa kuliah S1 dulu dan sekarang harus kembali sendirian di apartemen. Hua hua. Anyway. Jadinya, daripada bermuram durja, mending saya mengulas Eurotrip minggu lalu. Yah, bukan mengulas juga sih, karena ceritanya saya sedang malas, jadi pajang foto-foto saja ah, hihi. Untuk urusan cerita, saya percayakan pada Bu Mia. Foto yang akan saya pajang di sini sebenarnya subset dari yang saya pajang di Facebook, tapi tanpa saya di dalamnya, hoho.

 

1. Belanda

Tempat bertemu adalah Amsterdam. Saya rasa, selamanya kota ini akan mengingatkan saya pada insiden paspor hilang. Tapi berhubung saya sedang malas, tidak usahlah diceritakan, hehe. Intinya, meskipun jelas tidak jelek, sepertinya Amsterdam bukan tipe favorit saya. Mobil, tram, sepeda, pejalan kaki, semua serba semrawut, huhu. Dari sini, kami pun mengunjungi Keukenhof, yuhuu. Berikut adalah foto-foto edisi Belanda.

 https://picasaweb.google.com/s/c/bin/slideshow.swf

2. Belgia

Tujuan berikutnya: Brussels. Sekilas kota ini benar-benar mengingatkan saya pada kawasan Sudirman-Thamrin, yang artinya pemandangannya cuma gedung-gedung pencakar langit, huhu. Kabar bagusnya adalah, uang beasiswa saya berasal dari kota ini, hoho. Selain itu, ada toko Tintin juga. Jajan lumayan banyak, hoho.

 https://picasaweb.google.com/s/c/bin/slideshow.swf

3. Swiss

Saya suka Geneva! Ada danau besar di mana di tengahnya ada air mancur setinggi 140 meter, asik sekali. Selain itu, di pinggir danau ada taman-taman yang bersuasana damai.

 https://picasaweb.google.com/s/c/bin/slideshow.swf

4. Italia

Di Verona rombongan perjalanan kami reunian dulu dengan beberapa anak Fasilkom. Ngobrol dan foto-foto sampe lupa waktu, berujung lari-lari mengejar kereta Verona-Venice. Sungguh terharu rasanya ketika sampai di Venice (baru terharu besok paginya sih, pas sampe udah malem, ga liat apa-apa). Perkenalan pertama saya dengan Venice adalah lewat buku The Thief Lord-nya Cornelia Funke, salah satu buku favorit saya. Akhirnya saya bisa melihat Piazza San Marco dengan patung singanya, tempat Bo memberi makan burung-burung merpati, membayangkan kantor Victor yang berada di tepi kanal, jenis topeng yang dipakai Scipio (sungguh si Scipio Massimo ini sangat oke, masuk daftar fictional crush). Berhubung di sini banyak suvenir-suvenir bagus, saya belanja agak banyak, hehe.

 

 https://picasaweb.google.com/s/c/bin/slideshow.swf

 

Sekian ulasan Eurotrip pertama saya. Berikut adalah foto (sebagian) hasil belanjaan, hoho.

DSC01840