Category Archives: parenting

Happy Moms Raise Happy Kids (or: Sorry, Kid, You’re Doomed)

Let me first point out the elephant in the room. In just about every parenting article that shares this view (i.e. happy moms raise happy kids), the implication goes both ways; sometimes rephrased mildly as: your behavior mirrors your unhappiness and frustrations, and the children will absorb it and reflect your negative emotions. In other words, it’s not a logical fallacy when I say (according to these articles) unhappy moms raise unhappy kids.

Damn, what a way to make a mom feel pressured to be happy.

At least that’s how I feel, with all these #blessed and #yolo and “live in the moment” and “be happy NOW” circulating throughout the internet. Am I happy? Er, not really, at least not NOW. Can I be happy later? Is that okay? No? I have to be happy NOW? Oh, dear, my kid is going to be as depressed and anxious as I am.

I always think “are you happy?” is a somewhat useless question. Happiness is just one of the various human emotions. Yes, but are you happy in general? Well, there’s no in general. I’m not happy most of the time, if that’s what you’re asking; nor do I make happiness my life goal. You see, while happy times are good to experience, it’s the bad times that make a good story. Why else do you think Game of Thrones is so popular?

Bottom line: I’m not happy all the time (heck, not even most of the time) and I’m okay with that. But does this mean my kid is in bad hands?

Now let’s move on to the statistics. Studies find stay-at-home-moms are at greater risk for depression. Though in my case, I think this has less to do with the “stay-at-home” part than the “mom” part. I’m pretty good at staying at home; it’s the motherhood part that’s driving me insane. Now combine this with another study: premature babies are more likely to get anxiety problems. Then add my shitty genes to the equation.

Let’s just say I feel sorry for my poor kid.

*This post is written in half jest by a mom who, despite the odds, wants her kid to be happy.

Advertisements

When I Yelled At My Kid

Last Friday was quite eventful, for both good and bad reasons. I managed to finish my first draft at last, after starting it more than a year ago. It’s still a very rough draft–even for a first one–and in need of some major revisions. But I’m putting it aside for a while now so I can revisit it later with a new perspective.

That was the good part.

Before that, unfortunately, I did something terrible: I yelled at my toddler. And by that I mean screaming bloody murder at the top of my lungs.

My kid is pretty much potty-trained at home. It’s been quite a while since she last had an accident. But that Friday, for some reason only two-year-olds know, she refused to sit on her potty. I repeatedly asked her if she needed to pee; she said she didn’t. Five minutes later she wetted her pants. 

Throughout the morning she still refused to use the potty, no matter how nicely (or not) I asked her to. Then she wetted her pants the second time. And when it happened for the third time, I just lost my cool.
I yelled and yelled for the next three minutes.

She looked unfazed through the whole thing, just playing with her toys in the bathtub and looked at me as though I’d lost my mind (which I probably had).

Truh is, even while I was yelling, I could hear this voice in my head: you’re gonna regret this later. But I was too angry, I could not stop myself.

Guilt started to rush in almost instantly the second I closed my mouth. I cleaned her up and mopped the floor and felt like the biggest failure on earth. What if I scarred her for life? What if she was permanently damaged by my yelling?

Afterwards, I apologized to her and asked if she was sad or angry about being yelled at. She answered “no” to both questions and even patted my head, the way I always do whenever she’s upset. While this did not look like a sign of permanent damage to her personality, I still couldn’t let go of my guilt. What if I can’t stop yelling? The next time, she might not be so forgiving. What if I continue to yell at her well until her teenage years?

Guilt is something I experience a lot during motherhood. For not being able to carry her to term, for every goddamn time she’s coughing, for every time I reassured myself I made the right decision to stay at home and raise her my own way and still ended up yelling at her.

On days like that, I felt like a terrible mother.

On days like that, I questioned my decision to procreate when I’m too short-tempered, too self-centered to become a parent.

I can see now that all that yelling can be avoided. Even when overwhelmed with anger, I still could think clearly enough to move her from the slippery floor and remind myself to never, ever lay a finger on her. Surely I could have taken a few seconds to calm down?

I could write a book on why I’m not planning to have another child. But mostly it comes down to this: I don’t think I’m doing a good enough job at raising this one I currently have.

Amel dan Bronchopneumonia

Setelah bulan kemarin suami saya sakit, selanjutnya giliran Amel yang dirawat. Penyakitnya sama dengan dua tahun lalu ketika dia bolak-balik dirawat sepanjang bulan Maret-April: bronchopneumonia.

Sejak suami saya keluar dari RS, kami sekeluarga memang ngungsi dulu ke rumah mertua di Jakarta supaya suami saya ga terlalu jauh commute-nya untuk kerja. Memang sehari-hari kami jadi lebih santai, tapi pas weekend aduh capek banget sis. Nengokin rumah di Bojong bukannya untuk istirahat tapi malah harus bersih-bersih karena kotor banget kelamaan ditinggal.

Nah hari Minggu di jalan dari Bojong mau balik ke Jakarta, badannya Amel panas banget. Sebelumnya memang dia sempat batuk pilek demam. Sudah ke dokter dan diuap setiap hari, tapi batuknya masih ada. Hari Minggu itu panasnya sampai 39.

Hari Senin besoknya, saya bawa ke dokter lagi. Ternyata oleh dokter direkomendasikan buat dirawat. Skenarionya sudah all too familiar buat saya: sesak napas, saturasi oksigen rendah, dehidrasi, banyak lendir di paru-paru. 


Ya sudah, akhirnya Amel masuk kamar perawatan. Pas dipasangi infus, dia teriak-teriak, “Mau pulang ke Bojong!” Lol. Selanjutnya, pasang selang oksigen juga buat membantu napasnya.

Menurut hasil lab dan rontgen, ada infeksi bakteri di saluran pernapasannya. Dokter-dokter di RS ini umumnya pada RUM semua, tapi karena judulnya infeksi bakteri dan bukannya virus, ya terpaksa harus dikasih antibiotik.

Hari Selasa pagi ketika bangun, Amel bisa dibilang masih cukup ceria. Ngeluh laper, minta makan. Tapi dikasih makanan RS, baru sesuap langsung dilepeh. Rasanya hambar kali ya, lol. Makannya susaaaah sekali. Setiap makan mungkin cuma masuk 2-3 suap.

Sepanjang hari itu Amel masih demam dan banyak tidur. Mungkin obatnya bikin ngantuk ya. Besok paginya, selang oksigennya dilepas karena saturasi oksigennya sudah bagus. Sampai di sini Amel masih ceria meskipun demamnya belum turun.

Sorenya ketika visit, dokternya menyatakan concern karena Amel masih juga demam meskipun sudah diberi antibiotik. Diminta ambil sampel dahak untuk diperiksa kultur bakterinya. Duh, saya langsung inget almarhum ibu saya yang juga demam terus-terusan sampai infeksi bakterinya menyebar ke seluruh tubuh. Mana saya sendirian pula nemenin Amel. Rasanya sedih dan bingung banget.

Hari Rabu itu juga saya mulai merasa ga enak badan. Soalnya ngurusin orang sakit itu emang capek banget cyin. Malamnya ketika suami saya datang sepulang kerja, saya langsung berobat ke dokter umum. Takut kan kalau saya batuk pilek lalu nularin ke Amel lagi.

Hari Kamis besoknya, demam Amel sudah turun setelah obatnya diganti dengan yang lebih ampuh. Tapi anaknya lemes banget. Ga ada senyumnya sama sekali, ga mau makan, ga mau ngomong. Dijawab ‘ya’ dan ‘nggak’ aja udah untung. Tiap ada suster masuk, dia langsung nangis jerit-jerit.

Hari Jumat, kondisi fisiknya sudah membaik. Demamnya hilang, batuknya berkurang, dan sudah mau makan sedikit-sedikit. Tapi anaknya masih jutek banget sis. Saya ajak ngomong, dia ga responsif. Kalau ga lagi tidur, cuma bengong aja sambil cemberut. Saya stres banget. Gimana kalo dia ga kembali ke her normal self? Seharian itu saya nangis sendirian di kamar. Mana badan rasanya rontok udah berhari-hari ga pulang.

Besoknya dokter sudah mengizinkan pulang. Kondisi Amel belum terlalu fit, tapi bisa lanjut rawat jalan aja. Minum obat kan bisa di rumah, nebulizer juga saya punya. Selain itu, saya dan suami juga khawatir liat dia kayanya depresi banget di RS. Bahkan dibeliin boneka Baby Alive yang videonya sering dia tonton aja ga mempan. Boro-boro dimainin, dilirik aja engga.

Dari RS, kami langsung pulang ke Bojong. Beli Bebek Slamet di jalan karena di rumah ga ada makanan dan saya mana sempet masak. Di mobil, Amel langsung minta makan saat itu juga, ga mau tunggu sampai di rumah. Akhirnya saya suapin. Doi makan nasi + bebek goreng banyak banget, lol. Sampai rumah, Amel tidur nyenyakkk banget ga bangun-bangun. Saya sampai harus bangunin untuk makan malam dan minum obat. Anehnya, tiap waktu minum obat di RS dia jerit-jerit heboh, tapi di rumah malah gampang  minum obatnya.

Hari Minggu, Amel masih minta saya gendong ke mana-mana. Ga bisa lepas dari saya sepanjang pagi. Boro-boro mau masak. Akhirnya suami saya yang belanja dan beli makanan. Pulangnya dia sekaligus bawain balon kucing warna pink. Nyatanya, balon 10 ribuan itu ampuh sekali, lol. Senyum Amel yang ga keliatan selama berhari-hari langsung kembali. Dia langsung minta turun dari gendongan dan main lagi.

Besoknya, she’s back to her normal self. Malah lebih lincah dan bandel daripada sebelumnya. Suami saya sampai komentar, “Kamu ini, anaknya baru dua hari sembuh udah diomelin lagi.” Abis bocahnya main tanah pake gayung mainan lalu ditaro di ambang jendela. Gimana ga ngomel coba.


Setelah itu, giliran saya yang sakit, lol. Setiap hari capek banget abisannya, daya tahan tubuh saya jadi melemah kayanya. Dua hari terakhir saya rasanya constantly pengen buang air kecil terus, lalu setiap buang air kecil rasanya nyeri banget. Karena ga ada tanda-tanda membaik, tadi akhirnya saya ke IGD dan didiagnosis dengan cystitis. Dikasih antibiotik dan pereda nyeri. 

Siang ini harusnya ada agenda makan-makan bersama keluarga suami saya, tapi saya kayanya ga kuat. Jadi saya bilang ke suami, saya di rumah (mertua) aja dan tolong Amelnya dibawa. Begitu semua pergi, saya langsung tidur. Baru bangun ketika mereka pulang … jeng jeng 3,5 jam kemudian. Enak banget tidur tanpa harus ngurusin Amel dulu, lol. Badan langsung terasa lebih seger.

Dulu saya orangnya suka menahan-nahan sakit. Jadi kalau sakit sering ga bilang, gitu. Ditahan aja rasa sakitnya, apa lagi saya sepertinya punya pain tolerance yang cukup tinggi. Ga kaya suami saya yang kalau ga enak badan dikit langsung heboh lol. Nah, tapi saya lagi berusaha mengubah kebiasaan ini. Pasalnya, almarhum ibu saya juga suka menahan sakit begini. Sakit sedikit doang cuek aja, ga langsung ke dokter. Hingga akhirnya sakitnya sudah terlalu parah. Padahal kalau diperiksa sejak awal kan mungkin bisa dicegah supaya ga semakin parah. Begitu juga waktu saya hamil Amel. Bayangin aja, sampe rumah sakit udah bukaan lengkap. Coba saya sedikit lebih rewel. Mungkin persiapannya bisa lebih matang. Makanya sekarang saya belajar buat ga meremehkan rasa sakit.

Besok Amel kontrol ke DSA. Mudah-mudahan setelah ini udahan sakitnya deh.

Weaning: We Finally Did It

‚ÄčIt’s been one whole week since Amel last had her breast milk. At 2 years and 2 months, it’s about time. There were some moments, though, where I thought I’d still be breastfeeding her until kindergarten.

I first tried to gradually wean her around two months before her second birthday. I cut off her morning feeding, told her she’s a big girl now, and distracted her with toys. It was a failure; she didn’t understand why she could keep nursing at some times but not at other times, and I gave in too easily. After all, nursing was an easy escape. I could play with my phone while she latched on my breast, watching fish documentary.

Shortly before her second birthday, I tried to wean cold turkey. Some say weaning cold turkey is unfair for the child, but after two years, I was so ready to have my sleep and my body back. So I put a band-aid on my nipples and told myself to just tell her no. As it turned out, I didn’t even have to bother refusing her. The moment she saw the band-aid, she pulled down my shirt and did not even ask to nurse.

I was worried the whole time, though; does she drink enough? Does she produce enough wet diapers? The problem, however, was with sleep. She just wouldn’t fall asleep without nursing. We read books, sang songs, watched videos, and she screamed non-stop. I ended up rocking her to sleep like when she was a baby. Night time was an absolute hell. She woke up frequently, and refused to be comforted in any way. She went from having a total of 14 hours sleep a day to just 8.

After two days, she started coughing. The next day, I too started coughing. Due to exhaustion and lack of sleep, we both fell sick. What’s a mother to do? Not long after, we were back to breastfeeding.

I kind of put away the idea of weaning for a while, knowing bruised nipples are better than sleep deprivation. I never refused nursing her, but just kept telling her breastfeeding is for babies and she’s not a baby anymore.

Then, last week when she was about to nurse, she pulled my shirt back down and said, “Big girl.”

It was all the encouragement I needed.

A Bribery

My daughter loves water. She loves beaches and ocean and swimming pools. Heck, she even loves watching me wash the dishes because of the water coming from the tap.

She’s been driving us nuts lately with her persistent request to go swimming. She even put on her swim vest when she went playing outside. We did take her to the swimming pool in the end. Was she satisfied? Of course not. She wanted to go back in the water even before we left the parking lot.

A perfectly normal everyday outfit

So, knowing the power of a bribe, I said we can go swimming again on Friday, but that means no more breast milk. The next time she asked to nurse, I reminded her, “Sure, we can nurse now, but then we won’t go swimming on Friday. Is that okay with you?” She went silent, then, “I want to go swimming,” and stopped asking for boobs.

I don’t know if bribery is the right approach to weaning, and honestly I don’t really care. Because it works.

Being a strong-headed little girl that she is, she did make it to Friday without any more drop of breast milk. That morning I put her in the car seat and drove to the swimming pool.

Happy faces

It was just the two of us, but we had so much fun!

After-swimming snack

I packed snack for us in my new Lunchbots Trio container: chocolate banana muffins, hard-boiled eggs, and some oranges, and we finished them all. She fell asleep on our way home.

Dealing with Engorgement

Since I abruptly stopped breastfeeding, my breasts became engorged. It was very much like the early days of breastfeeding, when your breasts are rock-hard and painful.

I decided not to pump for a reason called laziness. I just hand-expressed a little during shower and did cold compress at other times to relieve the pain.

The internet told me cabbage leaves work wonders to treat engorgement, so I froze some and put them between my skin and bra. Yeah, all the gross things parents to do survive. But it works! It still feels uncomfortable but nothing extremely painful.

Frozen cabbage leaves

A Big Girl

I almost can’t believe how well she is taking this whole weaning process. We did stop cold turkey, but not once in these last 7 days did she scream for breasts. She eats well and drinks plenty and sleeps better. That’s the most amazing thing, I think: we both sleep better.

I can’t even begin to describe the joy of going to bed at 10 and found that it’s already 4 when I wake up. It’s been ages since I last have six hours uninterrupted sleep. There are still times when she wakes up early morning and I have to rock her. If I’m lucky, she’ll go back to sleep. If not, well it’s an early day for us.

But by and large she seems to be doing well. I hope we can keep this up!

Keseharian Amel

Sebentar lagi Amel bakal ulang tahun yang kedua. Ga terasa ya, cepet banget waktu berlalu. Kata tetangga sebelah, mungkin. Pastinya bukan kata saya, lol.

Di tahun kedua ini, Amel udah bisa lari, ngoceh, manjat-manjat, ngamuk … Capek tentu ngurusinnya, tapi ga ada apa-apanya dibanding capek di tahun pertama. Emang sih sampe sekarang pun Amel belum bisa sleep through the night, tapi gone were the days di mana saya harus gendong dia di teras jam 3 pagi sambil nyanyiin Brahm’s Lullaby. Tahun pertama itu absolute hell lah. Kthxbye.

Sekarang Amel sudah tumbuh menjadi anak dengan kepribadian sendiri, and I found that I actually like spending time with her. Dulu tiap ditinggal suami ke kantor, saya galau mikirin harus ngabisin hari yang panjang berdua aja sama Amel. Mau ngapain aja? Kalo saya kehilangan kesabaran gimana? Kalo saya jatoh di tangga terus ga ada yang nemuin sampe malem gimana?

Sekarang kami sudah punya rutinitas. Lega deh. Memang saya orangnya sangat patuh mengikuti rutinitas. Kalo ada hal-hal tak terduga yang terjadi di luar rutinitas, duh bete banget lah. Bahkan saat liburan pun saya masih berusaha sebisa mungkin ngikutin rutinitas, minimal untuk jam tidur dan makan.

Untuk urusan mainnya Amel, saya bersyukur banget tinggal di komplek dengan jalanan lega di mana ga banyak kendaraan lalu lalang. Waktu tinggal di Jakarta, tiap sebentar motor lewat. Baru jalan kaki dikit aja udah diklaksonin. Di sini kami bisa bebas jalan kaki sampe pegel.

Tiduran di jalan? Fine.

image

Tiduran di teras? Silakan.

image

Tiduran di gubuk? Go ahead.

image

Di komplek saya juga ada lapangan bermain dengan konsep minimalis, alias lapangan tanah dengan ayunan dan jungkat-jungkit seadanya. Amel seneeeeeng banget main di sini. Mungkin karena banyak anak-anak. Dia asal gabung aja meskipun yang lain udah gede-gede dan (quite understandably) ogah main sama dia, lol.

image
Main ayunan

Enaknya lagi, sekarang Amel udah bisa diajak ngerjain kerjaan rumah. Dulu begitu Amel tidur langsung deh saya terbirit-birit cuci piring dan masak, berusaha supaya semua selesai sebelum dia bangun.

Sekarang kalau mau masak, Amel tinggal saya dudukin di kursi makan, kasih daun bawang atau wortel buat mainan. Lalu saya jelasin saya lagi ngapain, misalnya, “Ini namanya bawang. Kita kupas dulu ya.” Biasanya sih dia asyik ngoceh niruin, “Bawan(g)!”

Cuci piring pun begitu. Dia berdiri di samping saya sambil ngeliatin dan terkadang “bantu-bantu”. Pernah dia ngotot banget pengen ikut nyuci piring sampe ada gelas yang pecah.

Karena kerjaan rumah tangga dikerjakan bareng Amel, jadinya pas dia tidur saya bisa nulis atau jahit. Tapi lebih sering saya ikutan tidur juga sih, haha.

Bagian ga enaknya: I’m so done breastfeeding, tapi ga tau gimana cara menyapihnya. Sejak beberapa bulan yang lalu saya mulai mengurangi frekuensi nenen sampe sekali aja di siang hari (malem sih masih). Terus suatu hari badan Amel anget. Makannya dikit, maunya nenen. Ya udah kasih deh daripada sakit. Lalu we’re back to zero. Bahaha. Ga ngerti ah.

Drama KB

Emang ya, hamil dan melahirkan itu pengalaman yang sangat menakjubkan bagi seorang wanita. Saking menakjubkannya, cukuplah sekali aja seumur hidup buat saya, bahaha.

Karena proses lahiran Amel dulu udah banyak drama, begitu kontrol ke obgyn 6 minggu postpartum saya langsung minta pasang KB. Maunya pasang IUD, biar aman 5 tahun ga perlu khawatir.

“Agak ga nyaman sedikit ya,” kata obgyn saya–sebut saja dokter A–ketika bersiap-siap memasang IUD. “Tapi ga sesakit melahirkan kok.”

Wtf, ga nyaman apaan. Itu sih SAKIT banget. Worse, sakitnya sia-sia karena spiralnya ga bisa dipasang. Kenapa ga bisa? Kata dokter A sih karena bentuk rahim saya yang ga memungkinkan. Bete.

Ya udah, akhirnya saya terpaksa milih metode KB lain: suntik Depo Provera. Yang ini cuma ampuh untuk jangka waktu 3 bulan, jadi harus rajin bolak-balik.

Beberapa kali suntik Depo Provera, saya ga mengalami efek samping yang mengganggu sih. Malah menstruasi berhenti sama sekali, which is a blessing. Yang paling malesin ya harus diperbarui setiap 3 bulan. Kalo weekend antriannya panjang banget. Kalo weekday ribet bawa Amel karena ga ada yang bisa dititipin.

Selain itu, lumayan costly juga (terutama konsultasinya) karena biaya kontrasepsi ga ditanggung asuransi kantor suami. Saya ga ngerti deh. Padahal biaya kesehatan ditanggung sampe anak ketiga. Bukankah lebih murah menanggung biaya kontrasepsi dibandingkan ongkos hamil, melahirkan, dan kesehatan satu anak lagi? Ah sudahlah.

Sekitar setahun suntik Depo Provera tanpa ada isu bermakna, suatu hari badan saya ngilu-ngilu tepat setelah disuntik. Ngilunya berpusat di tempat suntikan dan terus nyut-nyut sampe kaki. DERITA banget. Ini berlangsung selama 2-3 hari. Ketika saya mengeluhkan ini di kunjungan berikutnya, dokter A bilang ini wajar.

Di samping itu, saya juga mulai mens lagi. Bukan sekali sebulan kaya orang normal, tapi 3 hari mens 3 hari berhenti. Wtf. Setelah 2 kali suntik lagi disusul ngilu tulang tak tertahankan, I’ve had enough with Depo Provera.

“Kamu vasektomi aja gih,” kata saya ke suami. Udah saya yang hamil, melahirkan, dan menyusui, masa harus saya lagi yang KB? Tapi doi ga mau, takut katanya. Lol.

Akhirnya saya menemui dokter B di sebuah rumah sakit di Jakarta buat minta second opinion soal KB. Coba pasang IUD lagi, ternyata bisa tuh. Lega, meskipun emang sakit luar biasa plus mules. Dokter B bilang perdarahannya bakal berlangsung kurang lebih seminggu.

Seminggu berlalu.

Dua minggu.

Tiga minggu and no signs of stopping.

Ketika kontrol 6 minggu kemudian (harusnya sih sebulan, tapi dokter B ini antriannya luar biasa deh jadi telat dapet nomer), perawat di ruang tunggu bertanya ada masalah apa engga. Saya jawab perdarahannya belum berhenti.

“Kadang-kadang memang ada yang begitu,” kata si perawat. “Ada yang sampe 6 bulan.”

Shit.

Dokter B meresepkan Transamin buat menghentikan perdarahan. Obatnya harus diminum sampai habis; lalu kalau belum berhenti juga, disuruh balik lagi.

Sehari setelah mulai minum Transamin, saya mual luar biasa. Sekujur tubuh nyeri; it’s a whole new level dibanding nyeri tulang setelah suntik Depo. Cari info tentang Transamin, rupanya memang efek sampingnya mencakup mual dan nyeri sendi.

Setelah 3 hari minum Transamin saya ga tahan lagi. Ga kuat ngurus Amel dengan badan rontok kaya gitu. Akhirnya saya stop. Harusnya sih balik lagi ya ke dokter B, tapi saya kok masih males sama antriannya. Jadinya ditunda-tunda.

Sampai akhirnya perdarahannya berhenti sendiri.

15 MINGGU setelah pemasangan IUD.

Bahahahahahaha. Sampach.

Semoga aman.

Anak dan Gadget (or: Screen Time is Good for My Sanity)

Udah pada tau kan kalo penggunaan gadget itu berdampak negatif buat anak? Saya juga udah … udah muak maksudnya, bahaha. Tiap ada yang nge-share artikel tentang bahayanya screen time–dan ini biasanya setiap hari–I’d be like, give me a break.

Saya sering banget denger komentar: “Gimana sih, anak disibukin dengan tab, orangtuanya malah asik ngobrol,” atau “Anak-anak jaman sekarang, kerjaannya main tab mulu. Gw dulu main di luar.” Yaelah, jaman lo dulu mana ada tab cuy.

Postingan ini tidak bertujuan buat meng-encourage penggunaan gadget, bukan juga buat bilang, “Ah 10 menit doang main tab sih harmless lah.” Sama sekali bukan. But next time ngeliat anak kecil main gadget, janganlah buru-buru komentar orangtuanya males berinteraksi sama anaknya. Besar kemungkinannya mereka hanya butuh break sebentar, bukan males.

Karena kita ga bisa tau gambaran kehidupan mereka di rumah, di hari-hari lain, berdasarkan apa yang kita liat saat papasan di mall atau restoran.

Mungkin si ibu udah 2 bulan ga keluar rumah. Ini pertama kalinya setelah sekian lama dia pake baju rapi, pake lipstik, dan pengen banget sekali-kali makan di luar dengan tenang tanpa toddler yang ngerecokin dengan nyomotin makanan dari piringnya. Mungkin si bapak cape seharian udah ngebujuk anaknya buat buka mulut untuk makan, tapi begitu makanannya masuk mulut, langsung disembur lagi. Mungkin mereka berdua udah lama ga ngomongin topik selain popok dan tagihan listrik, dan saat ini–selagi si kecil asik main tab–adalah satu kesempatan mereka bisa ngobrol lagi tentang topik-topik menarik.

Ya tapi masa sih ga ada cara lain selain ngasih anak main gadget? Ada, but it’s not for you to decide. People don’t have an obligation to explain their parenting choices to you.

Saya sendiri sih sudah melewati fase di mana saya merasa bersalah karena ngebiarin Amel nonton YouTube, haha. Screen time mungkin ga baik buat anak, tapi baik buat kewarasan saya.

Amel bukan lagi bayi yang bisa ditaro di box selagi saya menarik napas sejenak. Sekarang sehari-hari kerjaannya main panas-panasan, nyabutin rumput, daun, dan bunga di halaman. Main ujan-ujanan, main keran di garasi. Ngobok-ngobok ember buat nampung air ujan dari atap yang bocor. PUNYA TETANGGA. Tiap Amel nongol, tetangga saya udah apal deh sama kelakuannya, “Amel, mau main air ya?”

image

Dan kalo setelah semua itu saya ngajak Amel tiduran sebentar sambil streaming channel ChuChuTV, no guilt here. If that’s what it takes buat merebahkan punggung sejenak dan mandangin dinding, then so be it. Biasanya sih sekitar 15 menit kemudian saya udah muak sendiri sama ChuChu, ChaCha, Chiku dan Chika. Siap buat main lagi. Kalo Amelnya masih pengen nonton gimana? Biarin aja nangis, bahaha. Dia mah diajak ke halaman buat metik daun palingan langsung ceria lagi.

Emang ga khawatir anaknya bakal ketagihan main gadget? Ya khawatir. Sama halnya dengan saya khawatir dia kena sunburn kalau panas-panasan di luar. Sama halnya dengan saya khawatir dia bakal digigit serangga kalo lagi main di rumput. Apa pun aktivitasnya, tentu ada yang dikhawatirkan. It’s an unavoidable part of parenting.

Lagian ya, si Amel tuh ogah banget nonton tanpa saya temenin. Dia ga tertarik sama TV. Mungkin karena saya nyetelnya acara masak-masakan di NatGeo People. Begitu juga kalau saya lagi butuh ke kamar mandi. Not everyone has the luxury buat bilang, “Bi, jagain si ade bentar ya. Saya mau ke kamar mandi.” Jadi kalau saya butuh ke kamar mandi, biasanya saya setelin video musik di hp. Tetep aja, begitu saya masuk ke kamar mandi, hpnya dilempar, terus dia duduk di keset selagi saya menyelesaikan urusan saya.

Ya udah poinnya sih parents need a break from time to time. Jangan langsung komentar pedes ngeliat gadget doang. Just, you know, keep whatever judgments you have to yourself. Shouldn’t be too hard.