Category Archives: movies

8.4 on IMDb? Really?

Watching The Fault in Our Stars last Sunday is such a painful experience. Eh bentar ganti bahasa dulu deh. Mengikuti aturan umum bahwa filmnya cenderung tidak sebagus bukunya, tentu saya ga ngarep macem-macem waktu masuk bioskop.

Ternyata, film ini melebihi ekspektasi saya … atau setidaknya begitu selama beberapa menit pertama sampai Augustus Waters muncul. Akting Ansel Elgort di sini sangat meh. Sejak melihat trailer-nya, di mana ada scene Ansel mengucapkan line “it’s a metaphor”-nya Augustus, saya memang sudah agak pesimis. Tapi ga nyangka ternyata sebegitu ngeselinnya. Di film ini, Augustus jadi terkesan tidak lebih daripada sekedar manic pixie dream guy—diciptakan hanya untuk mencerahkan hidup Hazel dan menjadikan Hazel pusat alam semestanya.

Masalah utama film ini saya rasa adalah script-nya. Memang, TFiOS ini plotnya sangat klise: dua remaja penderita kanker jatuh cinta lalu salah satunya meninggal? Zzzz. Tapi yang menjadikan bukunya beda dengan kisah klise ala Nicholas Sparks adalah narasinya Hazel yang sinis dan tidak meromantisasi kanker. Yang saya ga ngerti, film ini juga dinarasikan Hazel, jadi kenapa hal-hal yang menjadi ciri khas Hazel justru diubah-ubah? %#%#*!!

Film ini mencoba meyakinkan penonton bahwa Hazel adalah gadis yang cerdas, tapi saya ga ngeliat apa persisnya yang menjadikan dia cerdas. Apa karena dia membaca buku yang sama berulang-ulang? Apa karena dia sudah kuliah? Lupakan Hazel versi buku dengan analisisnya tentang permainan basket di akhirat. Bahkan, ga ada real conversations antara Hazel dan Augustus di film ini—they’re all, “Oh Hazel, you’re so beautiful”, “Oh Gus, I love you so much.”

All in all, film ini ga beda jauh dengan tipikal film Acha-Irwansyah. Saya jadi heran bagaimana filmnya sukses besar membuat kalimat-kalimat John Green terdengar kacangan. Ah, sudahlah.

Advertisements

kesan Les Miserables

Status proyek ngeblog tiap hari: sudah bolong dua.

Kalau ada yang tertarik mendengar alasannya, minggu lalu itu saya disuruh nginep di rumah orangtua tanpa akses internet. Nah mumpung sedang di Jakarta, Sabtu kemarin saya main-main ke mall dan nonton Les Miserables (telat yak). Sebelumnya saya ga pernah tertarik baca bukunya karena… terlihat membosankan, saingan sama Anna Karenina.

Oke jadi di bioskop, mbak-mbak di sebelah kiri saya tidur sepanjang film, sementara suami saya di sebelah kanan memasang tampang bosan. Saya? Saya menangis tersedu-sedu, sodara-sodara. Pengalaman saya dengan film musikal sebelum ini bisa dibilang kurang menyegarkan, mengingat saya selalu ketiduran bahkan untuk film yang tergolong bagus seperti Sweeney Todd dan My Fair Lady. Namun yang satu ini bisa membuat saya bertahan selama hampir tiga jam. Meski cuma muncul sebentar, akting Anne Hathaway di sini cukup dahsyat buat mengucurkan air mata pertama saya buhuhu. Tambahan lagi, cast-nya mencakup aktris favorit saya Helena Bonham Carter daaaaan… Eddie Redmayne. Sejak nonton Tess of the D’Urbervilles, saya cukup terpesona dengan si Eddie. Russell Crowe, menurut saya, terlihat terlalu gendut dan baik hati buat jadi Javert, tapi ya sudahlah. Btw, ngeliat Amanda Seyfried nyanyi saya jadi inget film musikal doi yang satu lagi: Mamma Mia!, film sampach yang saya suka, muhaha.

Pada akhirnya, film ini membuat saya penasaran dengan bukunya (though 1400 pages is such a time commitment).

kesan The Hobbit

Minggu lalu saya nonton film yang sudah lama ditunggu-tunggu sejuta umat, i.e. The Hobbit. Langsung saja komentarnya.

    • Banyak yang bilang 2.5 jam adalah durasi film yang terlalu panjang, tapi itu kan bagi penonton awam. Sebagai pembaca Tolkien yang menikmati setiap menit di Middle Earth, tentu saya sama sekali tidak keberatan. Namun, menghabiskan 2.5 jam di dalam bioskop tanpa perlu ke kamar mandi buat saya adalah mustahil. Jadinya ketinggalan beberapa adegan krusial deh -_-
    • Si Frodo ngapain sih cuy numpang lewat doang?
    • Saya suka sekali penampakan Galadriel dan Saruman di sini, termasuk rapat mereka dengan Gandalf dan Elrond.
    • Poin di atas juga berlaku untuk para kurcaci. Sejak kapan Kili jadi ganteng begitu?
    • All in all saya sangat suka film ini, meski bagian Azog the Pale Orc rada malesin sih. Jumat ini nonton lagi ah.

 

60s movies you should watch

One of my friends has this cool jukebox machine in his apartment, with a collection of oldies songs, including My Favorite Things, which brought me to re-watching The Sound of Music. And before long I found myself watching other 60s movies and becoming a fan of Audrey Hepburn. These are some short reviews, tapi sebelumnya, ganti bahasa dulu.

Breakfast at Tiffany’s

Ini film Audrey Hepburn yang pertama saya tonton, juga yang paling terkenal sepertinya. Diangkat dari novel karya Truman Capote dengan judul yang sama, ceritanya tentang Holly Gollightly, seorang gadis panggilan di New York. Salah satu adegan paling bagus  adalah waktu si Holly nyanyi Moon River di ambang jendela. All in all, film ini agak terlalu manis sih menurut saya.

Roman Holiday

Imdb summary: “A bored and sheltered princess escapes her guardians and falls in love with an American newsman in Rome.” Very, very nice, this is one of my favorites. Ditambah lagi ada Gregory Peck, yang jadi Atticus Finch di To Kill A Mockingbird.

Two for The Road

This, my friends, is such a wonderful movie. Alur yang bolak-balik melalui serangkaian road trip bercerita tentang naik-turunnya hubungan dan rumah tangga Mark dan Joanna. I definitely will watch this at least ten more times in my life.

How to Steal A Million

Imdb summary: “Romantic comedy about a woman who must steal a statue from a Paris museum to help conceal her father’s art forgeries, and the man who helps her.” This one is so-so.

My Fair Lady

Denger-denger, dulu cukup banyak yang menentang peran Audrey sebagai Eliza Doolittle di sini, karena Julie Andrews dianggap lebih layak. To be honest, I found this movie boring. The music is not really my taste, except when Freddy sings On The Street Where You Live.

Charade

Imdb summary: “Romance and suspense in Paris, as a woman is pursued by several men who want a fortune her murdered husband had stolen.” Ini juga bagus dan lucu, highly recommended.

Sabrina

Imdb summary: “A playboy becomes interested in the daughter of his family’s chauffeur. But it’s his more serious brother who would be the better man for her.” This is how a romantic comedy should be, unlike the shit they make these days.

The Princess Bride

princess_brideSewaktu berkelana di IMDB mencari film yang menarik buat ditonton, saya sama sekali tidak menyangka film yang direkomendasikan ternyata akan menjadi salah satu film favorit saya. The Princess Bride adalah film tahun 1987, yang artinya saya telat banget. Tapi meskipun usianya lebih tua setahun daripada saya, film bagus akan tetap bagus sepanjang masa.

Ini adalah dongeng klasik. Untuk kaum adam, film ini mungkin terlihat luar biasa payah. Untuk mereka yang sok dewasa, film ini mungkin terlihat kekanak-kanakan. Untuk saya, film ini perfect. Saking sukanya, setelah menonton filmnya saya memutuskan untuk baca ebooknya (berhubung saya ragu bisa menemukan bukunya di dunia nyata). Saya ga suka baca ebook, terutama untuk genre fiksi (kalau ebook buat kuliah sih apa boleh buat). Satu-satunya ebook yang pernah saya tamatkan adalah The Princess Daries #10: Forever Princess, wokwokwok. The Princess Bride sukses menjadi ebook kedua yang saya tamatkan. Ternyata filmnya sangat setia dengan bukunya.

The-Princess-Bride

Dari tadi hanya memuji-muji, saya belum menjelaskan kisahnya. Well, it has all the best things a story can tell. Fencing. Fighting. Torture. Poison. True love. Hate. Revenge. Giants. Hunters. Bad men. Good men. Beautifulest ladies. Snakes. Spiders. Beasts of all natures and descriptions. Pain. Death. Brave men. Coward men. Strongest men. Chases. Escapes. Lies. Truths. Passion. Miracles.

nonton Harry Potter

Akhirnya saya nonton Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1! Hore!!!! Sebelum dirilis, saya ga antusias sama film ini, mengingat 6 film sebelumnya adalah kegagalan besar (setidaknya menurut saya). Tapi tapi tapi… Melihat banyaknya review yang memuji-muji film ini di hari pertama pemutarannya, saya penasaran juga. Sayangnya rencana nonton sempat tertunda karena saya ga tau letak bioskop terdekat di sini dan teman-teman saya terlalu miskin imajinasi untuk tertarik nonton film ini.

Namun akhirnya Rabu kemarin saya dan teman saya Mariya menetapkan hati buat nonton. Bikin poll di Doodle, tapi yang tertarik cuma si Milos doang. Biarinlah, yang penting jadi. Jam 17.20 saya sampe di depan apartemen Mariya, lalu kami pun jalan kaki menuju halte bus terdekat. Si Milos lagi di Sliema dan rencananya akan berangkat langsung dari sana menuju bioskop di Valletta. Sekitar jam 17.45, saya dan Mariya sampe di terminal bus Valletta (kelamaan nunggu busnya), tapi rupanya si Milos ga dapet bus dari Sliema. Ya sudah akhirnya berdua aja menuju bioskop.

Hari Rabu kemarin itu adalah hari libur di Malta. Valletta rame luar biasa, sodara-sodara. Jalan Republika (saya lupa nama Maltese-nya) penuh dengan orang. Eits, tapi ini rame yang menyenangkan loh. Berhubung udah hampir telat, saya dan Mariya berlari-lari di tengah kerumunan orang menuju Embassy Shopping Centre and Cinema. Untungnya keburu. Ini dia tiketnya.

DSC00913Pas masuk, teaternya udah gelap, jadi kebingungan nyari nomer tempat duduknya. Tapi akhirnya berhasil duduk sebelum filmnya di mulai. Saat semua lampu sudah dimatikan dan logo Warner Bros terpampang di layar, wihhh rasanya excited sekali! Yuhuuu.

Well, what can I say about the movie? It’s good. It’s surprisingly good. Di film ini saya bisa melihat Harry Potter, bukan Daniel Radcliffe. Sejujurnya, dari film pertama saya berpendapat Daniel Radcliffe ga terlalu cocok memerankan Harry: terlalu ganteng, terlalu bersih, kurang kurus, dan banyak alasan lainnya. Selanjutnya, saya merasa Daniel makin tua kok makin jelek ya (gini nih, ganteng salah, jelek salah). Di film ini doi ga ada ganteng-gantengnya, tapi aktingnya di sini benar-benar sesuai dengan karakter Harry.

Selain itu, ada scene yang ga berasal dari buku tapi saya suka. Sebagai catatan, sejak saya berkenalan dengan Harry Potter, saya selalu berpendapat bahwa Hermione adalah pasangan yang tepat untuk Harry. For some reasons I can’t explain, they’re just perfect for each other. Yah, lama-kelamaan saya bisa menerima fakta bahwa mereka tidak akan bersama. Tapi dancing scene antara Harry dan Hermione di film ini membangkitkan kembali perasaan lama itu, huhu. I know they’re like siblings, but that’s exactly why they should end up together.

Ada juga sih bagian yang saya ga suka di film ini, yaitu image 3D Harry dan Hermione yang muncul saat Ron akan menghancurkan Horcrux. Er, berlebihan aja rasanya. Apalagi, banyak penontonnya yang anak-anak, jadi kayanya ga pantas.

Oke, satu hal tentang bioskop Malta. Saat film sedang seru-serunya, tiba-tiba layarnya gelap, lalu muncul tulisan “Intermission” yang disusul dengan iklan-iklan. WTH? Busuk banget lah. Tapi setelah 10 menit, akhirnya filmnya nyambung lagi. Setelah filmnya kelar, rasanya puas!

Sekeluarnya dari bioskop, Valletta sudah agak sepi. Di sepanjang jalan banyak dekorasi yang menyerupai pohon Natal putih tertutup salju, lampu warna-warni, dan lagu-lagu Natal yang diputar lewat speaker. Saya pun pulang dengan hati bahagia.

Oh, I forgot one more thing. Favorite scene? Saat Bellatrix menyiksa Hermione. It’s perfect. You can feel her pain. I almost cried seeing ‘Mudbloood’ written in her arm.