Category Archives: erasmus mundus

Praha

Setiap akhir Mei, seluruh mahasiswa LCT dari berbagai penjuru dunia (karena meskipun judulnya European master’s programme, 2 universitas dari benua lain juga tergabung di program ini) berkumpul buat acara yang namanya students’ day dan wisuda. Tahun ini tempat berkumpulnya di Praha. Postingan ini bukanlah ulasan tentang Praha, melainkan omong kosong seperti biasa.

Senin

Jadi ceritanya saya sudah harus berada di stasiun jam 7 pagi. Namun ternyata hari Senin itu adalah hari libur nasional; bus beroperasi lebih siang dari biasanya, yang artinya saya harus sepedahan ke stasiun. Dilema bawa-laptop-atau-tidak terselesaikan sudah karena susah juga bawa bagasi banyak-banyak sambil sepedahan. Sepeda ditinggal di universitas, tidak lupa dikunci, dirantai, dan didoakan tidak dicuri.

Bersama 3 tuyul LCT Groningen lainnya, menuju ke airport Eindhoven, terbang ke Praha, dan menuju hotel. Sampai situ tidak ada yang seru. Hotelnya terletak di daerah suburban yang pemandangannya cukup mengecilkan hati. Sekitar jam 3 siang, beranjak menuju city centre. Sebelum ini saya membayangkan Praha seperti kota tua yang agak bernuansa mistis, nyatanya yaaahh ga begitu mistis dan sangat touristy. Berikut Charles Bridge dan pemandangan dari Charles Bridge.

Jalan ke Astronomical Clock dan Old Town Square lalu nurutin tuyul-tuyul ke Prague Beer Museum. Apa yang bikin mereka hobi sekali duduk-duduk di bar sampe pagi, saya juga ga tau. Untungnya kali ini ga sampe pagi, karena jam 9 janjian ketemuan dengan tuyul LCT lainnya. Berikut foto tempat ngumpulnya. Mohon maaf saya lupa namanya. Sampai di sana pertama ketemu dengan rombongan LCT Melbourne. Berhubung kami semua baru kenal dengan rombongan Melbourne, jadinya: 1) topik percakapan adalah basa-basi tentang bahasa dan 2) topik percakapan adalah basa-basi tentang tesis, sehingga saya dan teman saya sepakat kabur, hehe.

Selasa

Entah siapa yang mengajukan ide buat mengadakan workshop sebelum graduation ceremony. Sudah lama ga duduk di kelas dan rasanya sulit sekali berkonsentrasi. Terlepas dari workshop, acaranya lumayan menyenangkan karena hari itu adalah pertama kalinya ketemu seluruh tuyul LCT, termasuk yang dulu barengan di Malta. Jadinya, alih-alih ikutan excursion ke perpus buat melihat suatu sistem yang tidak terdengar menarik, kami malah jalan-jalan ke taman dan reunian di pinggir sungai.

Anyway. Melihat orang-orang diwisuda, rasanya jadi agak gimana gitu. Di satu sisi, jadi bertekad buat jadi salah satu orang yang diwisuda tahun depan. Di sisi lain, jadi agak terintimidasi karena rasanya masih banyak sekali yang harus dikerjakan sebelum bisa lulus.

Rabu

Seperti sebelumnya, saat students’ day ada presentasi dari semua universitas tentang kehidupan masing-masing, dan presentasi Groningen tentu saja, isinya tentang how to bike in the rain, huhu. Selain itu, entah ide siapa pula, ada sesi presentasi tentang tesis bagi yang bersedia. Jadi minder.

Kalau hari sebelumnya excited karena bisa berkumpul dengan tuyul-tuyul lainnya, hari Rabu itu saya sudah capek bersosialisasi. Rasanya tidak ada yang penting lagi untuk diceritakan.

Kamis

Acara LCT berakhir sudah, tapi flight saya masih jam 5 sore jadi masih ada waktu buat jalan-jalan. Berhubung tidak ada acara, para tuyul bangunnya siang, sementara saya yang ga betah kalau diam saja pagi-pagi mendapat ide brilian buat jalan kaki di sekitar hotel selama sejam. buhuhu. Dengan kaki pegal, beranjak ke Prague Castle bersama serombongan tuyul. Pemandangan dari atas lumayan bagus, tapi ga masuk ke kastilnya karena tiketnya mahal (350 czk, meskipun harusnya ada diskon buat pelajar).

Makan siang di suatu restoran, saya minum doang sementara para tuyul mesen makanan aneh-aneh. Salah satunya adalah suatu potongan daging yang ukuran seporsinya kira-kira sama dengan seekor ayam. Saya ragu saya bakal pernah doyan makan daging lagi setelah melihatnya. Menu tersebut jugalah yang bersalah atas singkatnya sisa waktu jalan-jalan. Dengan sisa waktu 45 menit, 1 orang dan 4 tuyul bergegas menuju Petřínská rozhledna atau Eiffel Tower mini. Saya lebih suka menara ini ketimbang Eiffel betulan, mungkin karena lebih mudah dipanjat, hihi. Berikut pemandangan dari atas.

Saat berada di atas situlah saya memutuskan bahwa saya suka Praha. Sayangnya waktu sudah menunjukkan jam 3, saatnya beranjak menuju airport. Meninggalkan para tuyul yang baru akan pulang keesokan harinya, saya pun lari-lari ngejar metro/bus.

Sampai di airport, ternyata flightnya delayed. Yahhh, tau gitu tadi sempet ke Mirror Maze dulu. Setelah penantian yang panjang, akhirnya mendarat di Schipol, disambut hujan dan awan kelabu tebal. Sesampainya di Groningen, cuaca tidak membaik. Hujan semakin deras dan rupanya orang-orang sudah balik memakai coat lagi (saya cuma berbekal cardigan). Sempat kepikiran buat naik bus saja dari stasiun ke rumah, tapi khawatir juga kalau meninggalkan sepeda semalam lagi. Akhirnya jalan di tengah hujan dari stasiun ke kampus lalu menerapkan isi presentasi Groningen: how to bike in the rain.

Sesampai di rumah, saya langsung jalanin eksperimen tesis. Lalala.

Advertisements

talking about thesis

I’m going to tell you a bit about my thesis project. We have two keywords here: textual entailment and knowledge acquisition. In textual entailment, given a pair containing a text (T) and a hypothesis (H), you have to decide whether or not T entails H. By entailment, we mean a weaker relation than logical entailment. That is, T entails H if H can be reasonably concluded from T. Here is an example of an  entailment, taken from Pascal RTE3 Challenge:

T: A graduate of St Thomas’s Hospital Medical School in London, Fiona Wood worked at a major British hospital before marrying Western Australian born surgeon Tony Keirath and migrating to Perth with their first two children in 1987.
H: Fiona Wood is Tony Keirath’s wife.

One of the challenge in this task is the lack of background knowledge. In the example, you would expect the system to infer that if a female X married Y, then X is Y’s wife. Or that if a woman loves a man, then it follows that a human loves a human. For this kind of lexical knowledge, one of the sources that you can go for is WordNet. Other than lexical, however, there are so much knowledge that we need to provide, e.g. the fire burns, plants cannot talk, etc. It would not be feasible, of course, to hand-write all this knowledge, hence we need to come up with a method to somehow extract the knowledge from available sources. This is what we call knowledge acquisition.

I’m not going to tell you about the method, though, because it means writing my thesis in this blog 🙂

apartemen

Urusan apartemen di Groningen memang agak sulit. Tempatnya sedikit dan harganya mahal. Pencariannya bisa lewat Housing Office, agen perantara dengan universitas. Secara umum, pilihannya ada dua: international student house dan private market. International student house biasanya berupa kamar pribadi dengan berbagi kamar mandi dan dapur. Ada sih yang kamar mandinya di dalem, tapi cuma sedikit. Itu yang dulu saya pilih.

Sayangnya, international student house pilihan saya sudah penuh semua, jadi saya ditawari sebuah apartemen di private market. Tadinya agak ragu-ragu karena 1) letaknya jauh dan 2) mahal. Sementara itu, student house yang masih kosong hanya yang berbagi kamar mandi dan dapur. Tapi akhirnya, setelah minta saran dari orangtua dan teman-teman, saya putuskan (dengan tidak yakin) untuk menerima tawaran tersebut. Lagipula setelah dihitung-hitung, jatuhnya cuma beberapa belas euro lebih mahal dibanding yang di Malta.

Daaaan, ternyata sangat memuaskan ^^. Beginilah penampakannya begitu membuka pintu. Ada tv dan DVD player juga (sayang ga ada port USB-nya, ga mungkin juga saya beli DVD di sini).

DSC02434

Untungnya lagi, sudah termasuk internet, dan lumayan cepet pula, setara dengan yang di Malta. Sayangnya harus nyolok kabel LAN, bukan wifi. Dan setelah donlot film pertama pagi ini, saya baru inget belum nanya landlady-nya apakah internetnya unlimited atau tidak, huhu.

DSC02436

Di ruangan satunya, ada dapur yang perlengkapannya luar biasa lengkap. Panci, wajan, microwave, coffee maker, toaster, bahkan garam, merica, kopi, dan teh pun ada. Sudah disediakan pisang juga. Saya agak bingung harus diapain, berhubung saya ga doyan pisang.

DSC02442

Cukup sudah bagus-bagusnya. Sekarang sisi jeleknya. Dari peta di bawah ini, city center ditunjukkan oleh label A, sementara apartemen saya ada di B, buhuhu.

Untitled

Kemarin sang landlady sedang ada perlu ke city center dan nawarin saya ngikutin di belakang pake sepeda. Nah, perjalanannya paling lama cuma setengah jam kayanya. Sampai di pusat kota, kami pun berpisah. Setelah urusan saya selesai, saya jadi agak panik sendiri karena lupa jalan pulangnya. Dalam artian bener-bener ga tau rute mana yang harus diambil.

Akhirnya, berbekal peta, saya pun nekat mengira-ngira jalan mana yang bisa diambil. Tiap ada persimpangan, berhenti dulu buat ngecek peta. Sempet putus asa juga karena rasanya masih jauuuuh banget. Untung ketemu mbak-mbak baik hati yang mau ngasih tau perkiraan rutenya. Setelah itu saya jadi pede nanya sama orang-orang di jalan ^^. Dua kali ketemu ibu-ibu yang kebetulan searah, jadi saya tinggal ngikutin di belakangnya. Akhirnya, setelah 1,5 jam mengayuh sepeda, nyasar, nanya sekitar 10 orang, dan puluhan kali ngecek peta, saya berhasil sampai di rumah. Bangga sekali rasanya, hehe.

Jujur, waktu mau pulang dari pusat kota itu, saya sempet nyesel kenapa ga ngambil tempat di student house aja. Letaknya ga terlalu jauh, banyak temennya pula. Tapi kemudian, di sana pun pasti ada kesulitan-kesulitannya sendiri. Ga ada gunanya juga menyesali pilihan yang sudah dibuat. Semoga saja perjalanan selanjutnya tidak akan terlalu panjang.

perjalanan menuju tahun kedua

Berikut adalah rangkuman perjalanan saya.

  • perjalanan Lenteng Agung – CGK: 2 jam
  • penantian sejak turun dari mobil sampai pesawat berangkat: 2 jam
  • CGK – KUL: 1,5 jam
  • transit di KUL: 2,5 jam
  • delay di KUL: 2 jam
  • KUL – AMS: 13 jam
  • ngambil bagasi dan nunggu kereta: 1 jam
  • Schipol – Groningen: 2,5 jam
  • berdiri merana di antrian pengambilan residence permit: 3 jam

    Berikut adalah penjelasan perjalanan saya.

    Terhitung sejak kemarin, saya kembali di daratan Eropa. Jadi seharusnya saya sudah berada di sini lebih awal, mengingat ada acara Welcoming Ceremony tanggal 31 Agustus dan 1 September. Namun karena alasan-alasan tertentu, saya akhirnya memutuskan untuk terbang tanggal 31 Agustus 18.25 dan mendarat tanggal 1 September 06.35. Atau begitulah rencana awalnya. Buhuhu. Kenyataannya, ada delay 2 jam untuk penerbangan KUL-AMS karena cuaca buruk. Saya yang tadinya berharap bisa menghadiri Welcoming Ceremony Kamis siang buat mengambil residence permit, jadi agak berputus asa.
    Namun ternyata inilah yang terjadi:

    1. Di Schipol, saya ketemu sesama Indonesia yang juga bertujuan ke Groningen. Dia dijemput teman-teman seasramanya.
    2. Saya ikutan gabung. Ternyata ada yang punya kartu diskon, jadi saya cuma bayar 14 EUR buat tiket kereta.
    3. Karena berbagai keterlambatan, saya baru sampai di stasiun Groningen jam 12 siang. Untungnya di sana dijemput sama landlady apartemen saya.
    4. Setelah mendengar bahwa saya harus ke Zwolle (sejam berkereta dari Groningen) kalau gagal mengambil residence permit hari itu, sang landlady pun bersikeras mengantar saya ke universitas.

    Sesampainya di Academy Building, ternyata pengambilan residence permit tidak semudah yang saya bayangkan, buhuhu. Menurut jadwal, harusnya acaranya dari jam 9 sampai jam 1 siang. Saya datang jam setengah 1 dan ternyata… Antriannya masih panjang bener dan pergerakannya sangat lambat. Dengan kepala agak melayang-layang, akhirnya saya memutuskan tetep ngantri. Sepanjang antrian ada petugas-petugas yang nawarin air dan stroopwafel. Sempat ngobrol dikit dengan beberapa orang di dekat saya. Ketika mendengar bahwa saya langsung ke universitas begitu sampai di Groningen, mas-mas dari Chile berkata, “you are very tough”. Dia ga tau aja saya hampir nangis saking capenya. Dan akhirnya, setelah 3 gelas air dan 1 stroopwafel (ga enak, terlalu manis) atau lebih tepatnya 3 jam kemudian, akhirnya saya tiba di awal antrian. Terharu sekali rasanya ketika kartu residence permit jatuh ke tangan saya, huhuhu.

  • Malta – beberapa hal

    Bus

    DSC02218
    adalah sarana transportasi umum paling top di Malta. Di saat negara-negara Eropa lainnya sudah mengimplementasikan metro, tram, dan kereta, Malta masih bertahan dengan bus kuning ini. Bus-bus ini biasanya dilengkapi atribut religi seperti salib raksasa atau patung Yesus, namun ada juga yang dilengkapi stiker ala Metro Mini seperti “True Love Never Dies”, wokwokwok. Busnya tidak berhenti di setiap halte, jadi kalau mau minta diberhentikan dari dalam, kita harus menarik tali yang terhubung dengan sebuah lonceng.

    Kinnie

    kinnieadalah soft drink asli Malta. Menurut situsnya, Kinnie adalah “… a unique tasting, alcohol-free, refreshing beverage. … made from bitter oranges and a variety of aromatic herbs”. Dari tampangnya, memang terlihat sangat menyegarkan untuk diminum di siang hari yang terik. Rasanya? Ga karuan.

    Kelinci

    edward_tulane_cross_illustration
    beserta bumbu tertentu, adalah masakan khas Malta. Sebenarnya saya belum pernah mencoba kelinci sebagaimana yang dihidangkan di restoran-restoran sini karena kehalalannya yang tidak jelas. Namun, suatu waktu ketika mengunjungi bagian halal di sebuah supermarket, ada daging kelinci yang sudah dibumbuin dan siap dipanggang. Rasanya lumayan, agak mirip bebek.

    Maltese Cross

    Eurocoins.malta.choice4
    adalah simbol nasional Malta yang tertera di koin 2 Euro. Sejarah lengkapnya bisa dilihat di sini. Baru beberapa hari yang lalu saya sadar bahwa itu sebenarnya gambar salib, tepatnya ketika mencari suvenir buat oleh-oleh. Dan ternyata, mencari suvenir yang ga mengandung simbol ini susah juga, sodara-sodara.

    Mela
    adalah suatu kata dalam bahasa Malta yang bebas ditempatkan di manapun dalam kalimat dan bisa diartikan apa saja. Mela, sebenarnya saya juga ga tau ejaan yang benarnya seperti apa.

    Balkon

     DSC02195 - Copy
    adalah salah satu ciri khas bangunan Malta. Biasanya agak condong ke depan dan dihiasi sulur-sulur tanaman. Menurut saya balkon-balkon ini terlihat cukup oke. Deretan balkon di Valletta, denger-denger, adalah deretan balkon terpanjang sedunia. Suatu pencapaian yang luar biasa bukan? Huhu.

    Cerai
    adalah isu paling hot di Malta. Hukum di Malta tidak mengizinkan adanya perceraian, jadi ada pihak-pihak yang memperjuangkan perubahan tentang hal ini. Sejak saya datang sampai akan pergi lagi, “divorce” adalah kata yang paling sering muncul (setelah menyisihkan semua function word) di buletin kampus dan email survey, hoho.

    Proyek MT

    Proyek Machine Translation akhirnya kelar, lega rasanya. Jadi, proyek ini sudah berlangsung lebih lama dari yang direncanakan. Memangnya rencananya tadinya berapa lama? Seminggu, huhu. Saya sih memang dari awal ga percaya, bukan pesimis tapi realistis.

    Anyway, kenyataannya sebulan lebih telah berlalu sejak proyek ini dimulai. Kenapa bisa begitu? Oke, satu hal yang saya ga sukai dari kuliah di Malta sini adalah deadline-nya yang ga jelas. Ga berlaku untuk semua kuliah sih, tapi sebagian besar. Misal dikasih deadline tanggal A. Kalau belum selesai tanggal segitu, ya bakal dikasih deadline baru. Satu, saya merasa hal itu ga fair. Saya udah kerja keras demi mengumpulkan tugas sebelum tenggat waktu, kok orang lain yang telat sebulan ga dikasih penalti apapun? Dua (dan inilah yang paling membebani dalam kasus proyek MT), buat saya deadline adalah titik waktu di mana setelah itu saya ga lagi harus memikirkan tugas yang bersangkutan. Tapi yang sering kali terjadi adalah, “saya beri lebih banyak waktu, kerjakan dengan lebih baik”. Kalau harus terus memperbaiki kerjaan, kapan bebasnya? Apalagi kalau kebetulan itu adalah mata kuliah yang ga begitu saya sukai; tentunya kesempurnaan bukanlah prioritas utama.

    Oke, kembali ke MT. Jadi awalnya saya dan kelompok diberitahu bahwa deadline-nya akhir Februari. Kemudian berubah lagi jadi awal Maret. Akhirnya saya dan kelompok keburu bosan dengan proyek ini dan bikin deadline sendiri, yaitu weekend ini.

    Awalnya semua bekerja dengan senang hati. Bikin plan, ketawa-ketawa, dll. Setelah beberapa lama, mulai muncul perkataan seperti, “when we finish this project, …”. Bagian titik-titik bisa diisi dengan ekspresi bebas yang menggambarkan kegiatan hura-hura. Lama-lama, karena keseringan ketemu, setiap orang setuju bahwa bagian titik-titik sebaiknya diisi dengan, “saya ingin menghabiskan waktu sendirian”. Ini satu hal yang saya suka di sini. Kalau di Indonesia dulu saya sering dicap sebagai orang aneh dan antisosial (yang tentu saja tidak benar. Anggap saja saya hanya sangat menyukai kesendirian, hehe), di sini semua sama anehnya dengan saya.

    Setelah itu, masalah mulai bermunculan satu per satu. Tools yang ngasih error ga jelas, hasil yang ga sesuai harapan, kerja keras yang taunya ga kepake; semua itu memicu ketegangan yang berakhir pada situasi di mana ada anggota kelompok yang nangis, ada yang ngambek, ada juga yang tetap santai sambil pura-pura baca paper buat referensi padahal baca ebook Jane Austen. Yang terakhir itu saya tentunya, hihi.

    Entahlah, saya rasa sebagian besar (kalau bukan semua) anggota kelompok saya yang lain belum terlalu terbiasa bekerja dalam kelompok untuk proyek yang bikin stres macam MT ini. Beberapa ada yang berlatarbelakang linguistik, di mana katanya sebagian besar tugasnya dilakukan secara individual. Bahkan mereka bilang sepertinya saya adalah satu-satunya yang selalu berada dalam mood yang baik selama proyek ini. Ironis sekali, di Indonesia mana ada yang bilang gitu, haha. Anyway, saya sendiri meyakini bahwa alasannya adalah karena saya kurang suka MT dan karenanya saya tidak terlalu peduli bagaimana hasilnya menolak dibuat stres oleh sesuatu yang tidak saya sukai. Selain itu, rasanya ini belum apa-apa deh dibanding kuliah di Fasilkom dulu, apalagi pas semester 6, di mana saya harus bolak-balik antara kelompok PPL, Anum, CIS, MSI, dan Grafkom.

    —-nostalgila dikit—-

    Bicara tentang kuliah di Fasilkom, jadi rindu masa-masa dahulu. Tiap hari dateng ke kampus buat ngerjain HEAVEN, makan di warteg Sasari, transfer donlotan film, ngerjain proyek Room of Relax (wakaka) buat Grafkom, duduk-duduk sambil berdiskusi di yuli. Di proyeknya pun sering kali diselipkan hal-hal ga penting, seperti bulu-bulu malaikat di presentasi HEAVEN dan splash screen paling menarik sedunia buat presentasi Image-Encryption CIS.

    splashscreen

    —-nostalgila selesai—-

    Singkat kata, begitulah suka duka kerja kelompok pertama di belahan dunia Eropah. Sekarang, saya mau santai-santai dulu.

    being the only student

    Belakangan ini saya memang malas menulis blog. Salah satunya penyebabnya adalah beberapa hari yang lalu suasana hati saya sedang agak busuk. Sakit, kedinginan, banyak tugas, dan rindu rumah sukses membuat saya ga semangat hidup. Setelah suasana hati membaik, hari-hari saya didominasi kumpul kelompok untuk proyek Machine Translation, bah.

    Jadi yang ingin saya ceritakan hari ini adalah, semester 2 sudah dimulai. Kalau di semester lalu saya mengambil beberapa kuliah yang sudah pernah saya pelajari, seperti Logic Programming dan TBA, kali ini ga ada stok kuliah santai-santai. Mari didaftar:

    1. Compilers. Kelas pagi + dosen bikin ngantuk = bah.
    2. Further Topics in Data Structures and Algorithm. Sejauh ini rasanya baik-baik saja (ya iyalah, baru sekali pertemuan), semoga selanjutnya tetap baik-baik saja.
    3. Functional Programming. Yang ini lumayan oke.
    4. Logic, Representation, and Inference. Ini kuliah yang seharusnya membuat saya sangat bersemangat. Ditambah lagi, tahun lalu kuliah ini diajar oleh Patrick Blackburn sendiri (aaaa). Nyatanya… Tahun ini diajar dosen tamu dari Swiss, yang sebenarnya ga buruk dalam mengajar, tapi tetap saja bukan Patrick Blackburn.
    5. HLST Project. Kuliah ini belum ketauan kapan munculnya. Semoga saja ga terlalu merepotkan.
    6. Finite State Machinery and Computational Morphology. Kuliah ini harusnya dimulai semester lalu, tapi taunya malah ditumpuk di semester ini. Berhubung ini sepertinya tipe kuliah singkat macam Machine Translation, saya jadi punya firasat buruk.
    7. Introduction to Bioinformatics. Kuliah ini sengaja saya sebut terakhir karena, ehem, karena siang ini saya mendapat email yang cukup mengejutkan dari dosennya. Annisa, you are the only student in the Bioinformatics course. We shall be meeting once a week to cover reading material and to assign coursework. BAGAIMANA MUNGKIN? Sungguh saya langsung kepikiran buat ngedrop, huhu. Ditambah lagi, sepertinya bebannya cukup berat. Tapi… entah kenapa rasanya seperti menyerah sebelum bertanding, huhu. Jadi ya sementara ini saya *terpaksa* datang dulu ke sesi kuliah privat and melihat apa yang akan terjadi selanjutnya (sok tabah, padahal dalem hati: aaaa, tidak!!).

    Doakan saya selamat, sodara-sodara!