11 Kesan Setelah Membaca Harry Potter and the Cursed Child

​Jadi ya, saya sama sekali ga aware bahwa play script Harry Potter and The Cursed Child ini diterbitin dalam format buku. Baru tau pas buka Buzzfeed; kok banyak artikel mencaci maki buku kedelapan ini. Akhirnya saya putuskan untuk coba ikutan baca, dengan ekspektasi yang rendah sekali. Lagian lumayan kan bisa caci maki buku orang lain; bikin lupa masalah di buku sendiri, lol.

Inilah 11 kesan yang saya dapatkan setelah membaca buku ini.

1. Is it a book? Is it a script? Is it a book of script?
Selayaknya play script, buku ini isinya dialog semua. Siap-siap buat lompat dari satu dialog ke dialog lain tanpa basa-basi buat transisi. Meskipun memang seperti inilah format play script, I WAS EXPECTING A BOOK.

2. The plot moves so fast.
Dalam satu halaman, Albus udah bertambah tua dua tahun. Kthxbye.

3. Gampang banget nyolong Time-Turner dari Hermione.
Minum Polyjuice Potion buat menyamar jadi Harry Potter (HARRY POTTER CUY!) dan Hermione Granger (Minister of Magic sendiri), lalu menyusup ke kantor Hermione, dan mencuri Time-Turner? Easy as pie.

4. Character depth-nya perlu dipertanyakan. 
Saya ga nangkep motivasi dan tujuan karakter-karakternya. Ngapain amat Albus mau mengubah nasib Cedric? Kenal juga engga. Lalu kok bisa langsung percaya sama Delphi? Lagian si Delphi ini wtf sih maunya?

5. Harry ikutan diet rendah gula?
Kthxbye. That’s not the Harry I knew.

6. Voldemort dan Bellatrix punya anak? EW.
Meskipun Bellatrix memandang Voldemort kaya tuhan–mematuhi segala perintahnya, menjauhi segala larangannya–saya ga bisa ngebayangin Voldemort tahan bersentuhan dengan manusia biasa. Lagipula, keberadaan offspring ini jadi defeats the purpose of Horcruxes.

7. Tapi yang paling mengejutkan setelah semua poin di atas adalah … THIS BOOK IS SO FUN TO READ.
Begitu sudah terbiasa dengan formatnya, dan kalau bacanya juga ga terlalu kritis dengan plot hole dan inconsistency dengan buku-buku sebelumnya, seru juga lho time-travelling dan melihat dunia alternatif yang terjadi gara-gara kelakuan Albus dan Scorpius.

8. Saya suka interaksi antara Snape dan Hermione di salah satu alternate reality.
Hermione: I was an excellent student.
Snape: You were moderate to average.

9. Sampai sekarang saya masih belum ngerti JKR ikut nulis buku ini apa engga.
Kalau di Goodreads, dia termasuk salah satu penulisnya. Tapi ada juga yang bilang dia cuma menyetujui hasil kolaborasi dua penulis lainnya. Saya personally sih–melihat banyaknya pembunuhan karakter di buku ini–lebih memilih untuk percaya yang kedua.

10. Harus banget ya ini diiklankan sebagai buku kedelapan?
Cuy ini kualitas fanfiction cuy. Ga selevel sama tujuh buku sebelumnya.

11. That said, this is a good fanfiction.
Kalau ada lanjutannya saya mau dong baca hahaha.

Final score: 3/5.

Rooftoppers

​Judul: Rooftoppers
Penulis: Katherine Rundell
Tahun: 2013
Jumlah halaman: 278
Rating: 5/5

Udah lama ya saya ga nulis review buku. Sekali ini saya bela-belain deh bangkit dari males demi berbagi bacaan middle grade yang sangat memuaskan ini.

Ketika kapal Queen Mary karam, Sophie yang berusia satu tahun adalah satu-satunya penumpang wanita yang selamat. Seorang pria bernama Charles Maxim menemukannya tengah mengapung di atas kotak selo. 

Think of nighttime with a speaking voice. Or think how moonlight might talk, or think of ink, if ink had vocal cords. Give those things a narrow aristocratic face with hooked eyebrows, and long arms and legs, and that is what the baby saw as she was lifted out of her cello case and up into safety.

Aaak. Love at first chapter.

Charles lalu memutuskan untuk membesarkan Sophie sendirian. Namun Miss Elliot dari Welfare Agency tidak suka dengan cara Charles membesarkan Sophie. Menurutnya anak perempuan tidak seharusnya memakai celana, atau menulis di dinding, atau menggunakan atlas sebagai alas makan. Ketika Sophie berusia dua belas tahun, agensi itu mencabut hak perwalian Charles atas Sophie.

Terancam dimasukkan ke panti asuhan, Sophie memutuskan untuk mencari ibu kandungnya hanya dengan berbekal alamat si pembuat selo. Bersama Charles, dia kabur dari London ke Paris. Di sana dia bertemu dengan Matteo dan para Rooftoppers, sekumpulan anak yang hidup di atap-atap bangunan Paris, yang membantunya melaksanakan misinya.

Oke pertama-tama saya ngefans berat sama Charles Maxim yang bookish dan figur ayah idaman banget. Dan seperti Charles, Sophie juga tumbuh jadi karakter dengan kepribadian kuat.

“But . . . they told me that she was dead, and I didn’t believe them. Why did she believe it? Why didn’t she keep looking?”
“My darling, because she is an adult.”
“That’s not a reason.”
“It is, my love. Adults are taught not to believe anything unless it is boring or ugly.”
“That’s stupid of them,” she said.
“Sad, child, but not stupid. It is difficult to believe extraordinary things. It’s a talent you have, Sophie. Don’t lose it.”

Lalu settingnya ya ampun. Deskripsi Paris di sini cakeeep banget. Lebih cakep daripada kota aslinya menurut saya, haha. Ngebayangin Matteo berkeliaran di atap bangunan dan jalan di atas tali sambil ngasih makan burung kesannya sangat magical.

Pas nutup buku ini, hati rasanya hangat. Lol. Setelah sekian lama ga nemu bacaan yang memuaskan, this book is such a gem.

“Only people murmur. Sea roars. Wind blows.”
“No. Sometimes the sea and the wind murmur. The two are old friends.”
“Oh.”
“When they sound together,” he said, “it means luck. A murmuration. A good omen.”

Keseharian Amel

Sebentar lagi Amel bakal ulang tahun yang kedua. Ga terasa ya, cepet banget waktu berlalu. Kata tetangga sebelah, mungkin. Pastinya bukan kata saya, lol.

Di tahun kedua ini, Amel udah bisa lari, ngoceh, manjat-manjat, ngamuk … Capek tentu ngurusinnya, tapi ga ada apa-apanya dibanding capek di tahun pertama. Emang sih sampe sekarang pun Amel belum bisa sleep through the night, tapi gone were the days di mana saya harus gendong dia di teras jam 3 pagi sambil nyanyiin Brahm’s Lullaby. Tahun pertama itu absolute hell lah. Kthxbye.

Sekarang Amel sudah tumbuh menjadi anak dengan kepribadian sendiri, and I found that I actually like spending time with her. Dulu tiap ditinggal suami ke kantor, saya galau mikirin harus ngabisin hari yang panjang berdua aja sama Amel. Mau ngapain aja? Kalo saya kehilangan kesabaran gimana? Kalo saya jatoh di tangga terus ga ada yang nemuin sampe malem gimana?

Sekarang kami sudah punya rutinitas. Lega deh. Memang saya orangnya sangat patuh mengikuti rutinitas. Kalo ada hal-hal tak terduga yang terjadi di luar rutinitas, duh bete banget lah. Bahkan saat liburan pun saya masih berusaha sebisa mungkin ngikutin rutinitas, minimal untuk jam tidur dan makan.

Untuk urusan mainnya Amel, saya bersyukur banget tinggal di komplek dengan jalanan lega di mana ga banyak kendaraan lalu lalang. Waktu tinggal di Jakarta, tiap sebentar motor lewat. Baru jalan kaki dikit aja udah diklaksonin. Di sini kami bisa bebas jalan kaki sampe pegel.

Tiduran di jalan? Fine.

image

Tiduran di teras? Silakan.

image

Tiduran di gubuk? Go ahead.

image

Di komplek saya juga ada lapangan bermain dengan konsep minimalis, alias lapangan tanah dengan ayunan dan jungkat-jungkit seadanya. Amel seneeeeeng banget main di sini. Mungkin karena banyak anak-anak. Dia asal gabung aja meskipun yang lain udah gede-gede dan (quite understandably) ogah main sama dia, lol.

image
Main ayunan

Enaknya lagi, sekarang Amel udah bisa diajak ngerjain kerjaan rumah. Dulu begitu Amel tidur langsung deh saya terbirit-birit cuci piring dan masak, berusaha supaya semua selesai sebelum dia bangun.

Sekarang kalau mau masak, Amel tinggal saya dudukin di kursi makan, kasih daun bawang atau wortel buat mainan. Lalu saya jelasin saya lagi ngapain, misalnya, “Ini namanya bawang. Kita kupas dulu ya.” Biasanya sih dia asyik ngoceh niruin, “Bawan(g)!”

Cuci piring pun begitu. Dia berdiri di samping saya sambil ngeliatin dan terkadang “bantu-bantu”. Pernah dia ngotot banget pengen ikut nyuci piring sampe ada gelas yang pecah.

Karena kerjaan rumah tangga dikerjakan bareng Amel, jadinya pas dia tidur saya bisa nulis atau jahit. Tapi lebih sering saya ikutan tidur juga sih, haha.

Bagian ga enaknya: I’m so done breastfeeding, tapi ga tau gimana cara menyapihnya. Sejak beberapa bulan yang lalu saya mulai mengurangi frekuensi nenen sampe sekali aja di siang hari (malem sih masih). Terus suatu hari badan Amel anget. Makannya dikit, maunya nenen. Ya udah kasih deh daripada sakit. Lalu we’re back to zero. Bahaha. Ga ngerti ah.

When It’s Over, It’s Over

After the release of Teka-Teki Terakhir two years ago, I decided to read my work in printed book format, from cover to cover. The first thing I found, of course, was a typo. An author–it could be Neil Gaiman, but I’m not sure–once said it was the rule, that as the author, the first page you open will contain a typo.

But typos were not the only thing that bothered me. Some dialogues sounded awkward, some parts made me cringe, and in the end I came to a conclusion: I could have written this better. So when I set off to write my second novel, I swore I would revise, revise, and revise and would not submit it until I was fully satisfied with every sentence.

It didn’t work, of course.

The thing about writing a book is that basically you are forming a relationship with your manuscript. You need to have a commitment to show up and write, you have to invest time and energy to fix things that don’t work out, and finally you have to be able to tell when it’s over.

I spent almost a year revising my second novel. Then there came a point when I realized: I’ve worked as hard as I could. This is where I leave you. So I closed the document and sent it to my editor.

A writer–again, I forgot who–once said, “A book never gets finished. It just gets published.” In the final version of A untuk Amanda, there were still parts that I considered raw and unpolished. It could be better. Then again, it could always be better. I could work on it until the end of my life and it could always be better.

But I have said what I wanted to say and decided to be happy about it and move on to the next project.

And then it got published and some people liked the parts that I considered cringeworthy, while others cringed at the passages I was so proud to have written. And they get to know Amanda and it’s not the same Amanda I have in my head. It’s not right or wrong. Just different. I think it’s true that no two people ever read the same book.

When your book is published, it’s no longer yours. It’s up to the readers to read between the lines, to interpret it in their own ways, to fill every cliffhanger with their own endings. You do not get to say, “You’re missing the point. That’s not what I meant at all.” This is why I believe in readers’ right to write bad reviews.

And then, whether the work was good or bad, whether it did what you hoped or it failed, as a writer you shrug, and you go on to the next thing, whatever the next thing is.
– Neil Gaiman

This is the lesson I carry as I’m starting my third novel now. I’m still struggling with the beginning that I can’t even imagine finishing the story. But when (when? If? Am I going to finish it at all?) the time comes, I’ll have to remember that when it’s over, it’s over.

Drama KB

Emang ya, hamil dan melahirkan itu pengalaman yang sangat menakjubkan bagi seorang wanita. Saking menakjubkannya, cukuplah sekali aja seumur hidup buat saya, bahaha.

Karena proses lahiran Amel dulu udah banyak drama, begitu kontrol ke obgyn 6 minggu postpartum saya langsung minta pasang KB. Maunya pasang IUD, biar aman 5 tahun ga perlu khawatir.

“Agak ga nyaman sedikit ya,” kata obgyn saya–sebut saja dokter A–ketika bersiap-siap memasang IUD. “Tapi ga sesakit melahirkan kok.”

Wtf, ga nyaman apaan. Itu sih SAKIT banget. Worse, sakitnya sia-sia karena spiralnya ga bisa dipasang. Kenapa ga bisa? Kata dokter A sih karena bentuk rahim saya yang ga memungkinkan. Bete.

Ya udah, akhirnya saya terpaksa milih metode KB lain: suntik Depo Provera. Yang ini cuma ampuh untuk jangka waktu 3 bulan, jadi harus rajin bolak-balik.

Beberapa kali suntik Depo Provera, saya ga mengalami efek samping yang mengganggu sih. Malah menstruasi berhenti sama sekali, which is a blessing. Yang paling malesin ya harus diperbarui setiap 3 bulan. Kalo weekend antriannya panjang banget. Kalo weekday ribet bawa Amel karena ga ada yang bisa dititipin.

Selain itu, lumayan costly juga (terutama konsultasinya) karena biaya kontrasepsi ga ditanggung asuransi kantor suami. Saya ga ngerti deh. Padahal biaya kesehatan ditanggung sampe anak ketiga. Bukankah lebih murah menanggung biaya kontrasepsi dibandingkan ongkos hamil, melahirkan, dan kesehatan satu anak lagi? Ah sudahlah.

Sekitar setahun suntik Depo Provera tanpa ada isu bermakna, suatu hari badan saya ngilu-ngilu tepat setelah disuntik. Ngilunya berpusat di tempat suntikan dan terus nyut-nyut sampe kaki. DERITA banget. Ini berlangsung selama 2-3 hari. Ketika saya mengeluhkan ini di kunjungan berikutnya, dokter A bilang ini wajar.

Di samping itu, saya juga mulai mens lagi. Bukan sekali sebulan kaya orang normal, tapi 3 hari mens 3 hari berhenti. Wtf. Setelah 2 kali suntik lagi disusul ngilu tulang tak tertahankan, I’ve had enough with Depo Provera.

“Kamu vasektomi aja gih,” kata saya ke suami. Udah saya yang hamil, melahirkan, dan menyusui, masa harus saya lagi yang KB? Tapi doi ga mau, takut katanya. Lol.

Akhirnya saya menemui dokter B di sebuah rumah sakit di Jakarta buat minta second opinion soal KB. Coba pasang IUD lagi, ternyata bisa tuh. Lega, meskipun emang sakit luar biasa plus mules. Dokter B bilang perdarahannya bakal berlangsung kurang lebih seminggu.

Seminggu berlalu.

Dua minggu.

Tiga minggu and no signs of stopping.

Ketika kontrol 6 minggu kemudian (harusnya sih sebulan, tapi dokter B ini antriannya luar biasa deh jadi telat dapet nomer), perawat di ruang tunggu bertanya ada masalah apa engga. Saya jawab perdarahannya belum berhenti.

“Kadang-kadang memang ada yang begitu,” kata si perawat. “Ada yang sampe 6 bulan.”

Shit.

Dokter B meresepkan Transamin buat menghentikan perdarahan. Obatnya harus diminum sampai habis; lalu kalau belum berhenti juga, disuruh balik lagi.

Sehari setelah mulai minum Transamin, saya mual luar biasa. Sekujur tubuh nyeri; it’s a whole new level dibanding nyeri tulang setelah suntik Depo. Cari info tentang Transamin, rupanya memang efek sampingnya mencakup mual dan nyeri sendi.

Setelah 3 hari minum Transamin saya ga tahan lagi. Ga kuat ngurus Amel dengan badan rontok kaya gitu. Akhirnya saya stop. Harusnya sih balik lagi ya ke dokter B, tapi saya kok masih males sama antriannya. Jadinya ditunda-tunda.

Sampai akhirnya perdarahannya berhenti sendiri.

15 MINGGU setelah pemasangan IUD.

Bahahahahahaha. Sampach.

Semoga aman.

On Being A Community Writer

Akhir Januari lalu saya mendapat tawaran buat bergabung dengan blogger community-nya The Jakarta Post. Awalnya agak ragu sih. Gimana caranya coba nyari waktu buat nulis artikel berbahasa Inggris; buat nyukur bulu kaki aja ga sempet (TMI banget ya ini).

Tapi waktu itu kebetulan saya lagi ga ada proyek nulis. A untuk Amanda udah kelar edit dan siap terbit. Kerjaan saya cuma ngurus rumah dan Amel (ngurus Amel dibilang ‘cuma’, cih). Anyway, maksudnya sih udah lama ga bikin sesuatu buat diri sendiri.

Ketentuannya adalah saya harus nulis minimal 4 artikel sebulan, selama 3 bulan, setiap artikel terdiri atas 500-1000 kata. Dan rupanya, it’s totally doable! Meskipun ngerjainnya jam 3 pagi, sambil nenenin Amel. Meskipun semua artikel ditulis di hp, curi-curi waktu kalau Amel lagi main. Bikin draft-nya sih ga lama; paling 1-2 hari kelar. Mikirin topiknya itu yang susah.

Rupanya lagi, I suck at choosing titles. Ga sedikit artikel saya yang judulnya diganti supaya jadi lebih menarik bahaha.

Ini dia 12 artikel yang saya tulis.

On Life:

Why we should quit jumping to supernatural conclusions

5 things to consider before a detox diet

Constantly self-doubting yourself? You’re not alone

Coping with Loss: One year later

10 lessons you learn from living solo

On Reading and Writing:

Book review: When depression leads to a suicide pact

Have an unfinished novel? Here are some tips to overcome writer’s block

10 reasons it’s OK for adults to read young-adult novels

Book Review: Behind the doors of theatrical killer whale shows

On Parenting:

Born too soon: What it’s like to have a premature baby

Preemies and RSV: It’s more than just a cold

On Travelling:

Six things you need to know about Malta

Big Bad Wolf 2016

Hari Kamis tanggal 5 Mei kemarin, Big Bad Wolf di ICE buka jam 9. Saya datang kira-kira jam 10. Antriannya udah mengular sampe parkiran aja dong. Sempet ilfil juga. Apa main ke AEON aja ya?

image

Tapi rupanya sejak awal ngantri sampe masuk hall, cuma butuh waktu kira-kira 10 menit. Begitu masuk, saya ditinggal berduaan doang sama Amel karena papanya mau main sama temen-temennya. Amel terpaksa digendong soalnya orang-orang berseliweran bawa troli dan koper. Takut kelindes.

image

Di dalam lumayan rame tapi masih cukup leluasa buat browsing-browsing. Pertama masuk, disuguhkan buku-buku Mizan, disusul fiksi umum. Saya sih numpang lewat doang di sini berhubung jarang baca begituan. Koleksi fantasinya ga begitu banyak, tapi saya nemu a real gem: Gardens of the Moon-nya Steven Erikson cuma 70ribu saja! Yang mengecewakan, koleksi Young Adult-nya dikiiiit banget.

image

Sebagian besar buku di sini memang buku anak-anak. Mulai dari board book, buku referensi, Enid Blyton … Saya sendiri dateng khusus buat nyari Judy Blume, tapi cuma nemu 2, itu pun bukan yang saya cari. Yang hepi ya si Amel. Ampun, anaknya liar banget liat buku! Ambil buku, terus dia gelar di lantai dan dibaca di situ.

image

Berhubung saya udah rempong banget; satu tangan megangin Amel, satu lagi nenteng tas buku berat, saya biarin aja si Amel milih buku sendiri. Demi apa coba dia milih buku beginian.

image

Added to shopping cart!

Tentunya, mau bayar juga antri. Kira-kira 15 menit deh saya antri di kasir. Tapi harganya emang miring banget. Saya beli 12 buku, totalnya 690ribu saja!

Ini hasil belanjaan.

image

Puas? Belom, tapi udah keburu teler.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 288 other followers