Happy Moms Raise Happy Kids (or: Sorry, Kid, You’re Doomed)

Let me first point out the elephant in the room. In just about every parenting article that shares this view (i.e. happy moms raise happy kids), the implication goes both ways; sometimes rephrased mildly as: your behavior mirrors your unhappiness and frustrations, and the children will absorb it and reflect your negative emotions. In other words, it’s not a logical fallacy when I say (according to these articles) unhappy moms raise unhappy kids.

Damn, what a way to make a mom feel pressured to be happy.

At least that’s how I feel, with all these #blessed and #yolo and “live in the moment” and “be happy NOW” circulating throughout the internet. Am I happy? Er, not really, at least not NOW. Can I be happy later? Is that okay? No? I have to be happy NOW? Oh, dear, my kid is going to be as depressed and anxious as I am.

I always think “are you happy?” is a somewhat useless question. Happiness is just one of the various human emotions. Yes, but are you happy in general? Well, there’s no in general. I’m not happy most of the time, if that’s what you’re asking; nor do I make happiness my life goal. You see, while happy times are good to experience, it’s the bad times that make a good story. Why else do you think Game of Thrones is so popular?

Bottom line: I’m not happy all the time (heck, not even most of the time) and I’m okay with that. But does this mean my kid is in bad hands?

Now let’s move on to the statistics. Studies find stay-at-home-moms are at greater risk for depression. Though in my case, I think this has less to do with the “stay-at-home” part than the “mom” part. I’m pretty good at staying at home; it’s the motherhood part that’s driving me insane. Now combine this with another study: premature babies are more likely to get anxiety problems. Then add my shitty genes to the equation.

Let’s just say I feel sorry for my poor kid.

*This post is written in half jest by a mom who, despite the odds, wants her kid to be happy.

When I Yelled At My Kid

Last Friday was quite eventful, for both good and bad reasons. I managed to finish my first draft at last, after starting it more than a year ago. It’s still a very rough draft–even for a first one–and in need of some major revisions. But I’m putting it aside for a while now so I can revisit it later with a new perspective.

That was the good part.

Before that, unfortunately, I did something terrible: I yelled at my toddler. And by that I mean screaming bloody murder at the top of my lungs.

My kid is pretty much potty-trained at home. It’s been quite a while since she last had an accident. But that Friday, for some reason only two-year-olds know, she refused to sit on her potty. I repeatedly asked her if she needed to pee; she said she didn’t. Five minutes later she wetted her pants. 

Throughout the morning she still refused to use the potty, no matter how nicely (or not) I asked her to. Then she wetted her pants the second time. And when it happened for the third time, I just lost my cool.
I yelled and yelled for the next three minutes.

She looked unfazed through the whole thing, just playing with her toys in the bathtub and looked at me as though I’d lost my mind (which I probably had).

Truh is, even while I was yelling, I could hear this voice in my head: you’re gonna regret this later. But I was too angry, I could not stop myself.

Guilt started to rush in almost instantly the second I closed my mouth. I cleaned her up and mopped the floor and felt like the biggest failure on earth. What if I scarred her for life? What if she was permanently damaged by my yelling?

Afterwards, I apologized to her and asked if she was sad or angry about being yelled at. She answered “no” to both questions and even patted my head, the way I always do whenever she’s upset. While this did not look like a sign of permanent damage to her personality, I still couldn’t let go of my guilt. What if I can’t stop yelling? The next time, she might not be so forgiving. What if I continue to yell at her well until her teenage years?

Guilt is something I experience a lot during motherhood. For not being able to carry her to term, for every goddamn time she’s coughing, for every time I reassured myself I made the right decision to stay at home and raise her my own way and still ended up yelling at her.

On days like that, I felt like a terrible mother.

On days like that, I questioned my decision to procreate when I’m too short-tempered, too self-centered to become a parent.

I can see now that all that yelling can be avoided. Even when overwhelmed with anger, I still could think clearly enough to move her from the slippery floor and remind myself to never, ever lay a finger on her. Surely I could have taken a few seconds to calm down?

I could write a book on why I’m not planning to have another child. But mostly it comes down to this: I don’t think I’m doing a good enough job at raising this one I currently have.

Amel dan Bronchopneumonia

Setelah bulan kemarin suami saya sakit, selanjutnya giliran Amel yang dirawat. Penyakitnya sama dengan dua tahun lalu ketika dia bolak-balik dirawat sepanjang bulan Maret-April: bronchopneumonia.

Sejak suami saya keluar dari RS, kami sekeluarga memang ngungsi dulu ke rumah mertua di Jakarta supaya suami saya ga terlalu jauh commute-nya untuk kerja. Memang sehari-hari kami jadi lebih santai, tapi pas weekend aduh capek banget sis. Nengokin rumah di Bojong bukannya untuk istirahat tapi malah harus bersih-bersih karena kotor banget kelamaan ditinggal.

Nah hari Minggu di jalan dari Bojong mau balik ke Jakarta, badannya Amel panas banget. Sebelumnya memang dia sempat batuk pilek demam. Sudah ke dokter dan diuap setiap hari, tapi batuknya masih ada. Hari Minggu itu panasnya sampai 39.

Hari Senin besoknya, saya bawa ke dokter lagi. Ternyata oleh dokter direkomendasikan buat dirawat. Skenarionya sudah all too familiar buat saya: sesak napas, saturasi oksigen rendah, dehidrasi, banyak lendir di paru-paru. 


Ya sudah, akhirnya Amel masuk kamar perawatan. Pas dipasangi infus, dia teriak-teriak, “Mau pulang ke Bojong!” Lol. Selanjutnya, pasang selang oksigen juga buat membantu napasnya.

Menurut hasil lab dan rontgen, ada infeksi bakteri di saluran pernapasannya. Dokter-dokter di RS ini umumnya pada RUM semua, tapi karena judulnya infeksi bakteri dan bukannya virus, ya terpaksa harus dikasih antibiotik.

Hari Selasa pagi ketika bangun, Amel bisa dibilang masih cukup ceria. Ngeluh laper, minta makan. Tapi dikasih makanan RS, baru sesuap langsung dilepeh. Rasanya hambar kali ya, lol. Makannya susaaaah sekali. Setiap makan mungkin cuma masuk 2-3 suap.

Sepanjang hari itu Amel masih demam dan banyak tidur. Mungkin obatnya bikin ngantuk ya. Besok paginya, selang oksigennya dilepas karena saturasi oksigennya sudah bagus. Sampai di sini Amel masih ceria meskipun demamnya belum turun.

Sorenya ketika visit, dokternya menyatakan concern karena Amel masih juga demam meskipun sudah diberi antibiotik. Diminta ambil sampel dahak untuk diperiksa kultur bakterinya. Duh, saya langsung inget almarhum ibu saya yang juga demam terus-terusan sampai infeksi bakterinya menyebar ke seluruh tubuh. Mana saya sendirian pula nemenin Amel. Rasanya sedih dan bingung banget.

Hari Rabu itu juga saya mulai merasa ga enak badan. Soalnya ngurusin orang sakit itu emang capek banget cyin. Malamnya ketika suami saya datang sepulang kerja, saya langsung berobat ke dokter umum. Takut kan kalau saya batuk pilek lalu nularin ke Amel lagi.

Hari Kamis besoknya, demam Amel sudah turun setelah obatnya diganti dengan yang lebih ampuh. Tapi anaknya lemes banget. Ga ada senyumnya sama sekali, ga mau makan, ga mau ngomong. Dijawab ‘ya’ dan ‘nggak’ aja udah untung. Tiap ada suster masuk, dia langsung nangis jerit-jerit.

Hari Jumat, kondisi fisiknya sudah membaik. Demamnya hilang, batuknya berkurang, dan sudah mau makan sedikit-sedikit. Tapi anaknya masih jutek banget sis. Saya ajak ngomong, dia ga responsif. Kalau ga lagi tidur, cuma bengong aja sambil cemberut. Saya stres banget. Gimana kalo dia ga kembali ke her normal self? Seharian itu saya nangis sendirian di kamar. Mana badan rasanya rontok udah berhari-hari ga pulang.

Besoknya dokter sudah mengizinkan pulang. Kondisi Amel belum terlalu fit, tapi bisa lanjut rawat jalan aja. Minum obat kan bisa di rumah, nebulizer juga saya punya. Selain itu, saya dan suami juga khawatir liat dia kayanya depresi banget di RS. Bahkan dibeliin boneka Baby Alive yang videonya sering dia tonton aja ga mempan. Boro-boro dimainin, dilirik aja engga.

Dari RS, kami langsung pulang ke Bojong. Beli Bebek Slamet di jalan karena di rumah ga ada makanan dan saya mana sempet masak. Di mobil, Amel langsung minta makan saat itu juga, ga mau tunggu sampai di rumah. Akhirnya saya suapin. Doi makan nasi + bebek goreng banyak banget, lol. Sampai rumah, Amel tidur nyenyakkk banget ga bangun-bangun. Saya sampai harus bangunin untuk makan malam dan minum obat. Anehnya, tiap waktu minum obat di RS dia jerit-jerit heboh, tapi di rumah malah gampang  minum obatnya.

Hari Minggu, Amel masih minta saya gendong ke mana-mana. Ga bisa lepas dari saya sepanjang pagi. Boro-boro mau masak. Akhirnya suami saya yang belanja dan beli makanan. Pulangnya dia sekaligus bawain balon kucing warna pink. Nyatanya, balon 10 ribuan itu ampuh sekali, lol. Senyum Amel yang ga keliatan selama berhari-hari langsung kembali. Dia langsung minta turun dari gendongan dan main lagi.

Besoknya, she’s back to her normal self. Malah lebih lincah dan bandel daripada sebelumnya. Suami saya sampai komentar, “Kamu ini, anaknya baru dua hari sembuh udah diomelin lagi.” Abis bocahnya main tanah pake gayung mainan lalu ditaro di ambang jendela. Gimana ga ngomel coba.


Setelah itu, giliran saya yang sakit, lol. Setiap hari capek banget abisannya, daya tahan tubuh saya jadi melemah kayanya. Dua hari terakhir saya rasanya constantly pengen buang air kecil terus, lalu setiap buang air kecil rasanya nyeri banget. Karena ga ada tanda-tanda membaik, tadi akhirnya saya ke IGD dan didiagnosis dengan cystitis. Dikasih antibiotik dan pereda nyeri. 

Siang ini harusnya ada agenda makan-makan bersama keluarga suami saya, tapi saya kayanya ga kuat. Jadi saya bilang ke suami, saya di rumah (mertua) aja dan tolong Amelnya dibawa. Begitu semua pergi, saya langsung tidur. Baru bangun ketika mereka pulang … jeng jeng 3,5 jam kemudian. Enak banget tidur tanpa harus ngurusin Amel dulu, lol. Badan langsung terasa lebih seger.

Dulu saya orangnya suka menahan-nahan sakit. Jadi kalau sakit sering ga bilang, gitu. Ditahan aja rasa sakitnya, apa lagi saya sepertinya punya pain tolerance yang cukup tinggi. Ga kaya suami saya yang kalau ga enak badan dikit langsung heboh lol. Nah, tapi saya lagi berusaha mengubah kebiasaan ini. Pasalnya, almarhum ibu saya juga suka menahan sakit begini. Sakit sedikit doang cuek aja, ga langsung ke dokter. Hingga akhirnya sakitnya sudah terlalu parah. Padahal kalau diperiksa sejak awal kan mungkin bisa dicegah supaya ga semakin parah. Begitu juga waktu saya hamil Amel. Bayangin aja, sampe rumah sakit udah bukaan lengkap. Coba saya sedikit lebih rewel. Mungkin persiapannya bisa lebih matang. Makanya sekarang saya belajar buat ga meremehkan rasa sakit.

Besok Amel kontrol ke DSA. Mudah-mudahan setelah ini udahan sakitnya deh.

Sekali-sekali ngomongin selebgram

Di timeline saya sedang beredar tulisannya Icha tentang seorang selebgram. Siapa itu Neng A, langsung ketebak lah, karena pas dia lahiran dulu juga happening banget. 

Yang mengganggu saya soal instagramnya Neng A ini adalah, filosofi gentle birth-nya yang udah terbawa terlalu jauh. Kalau soal klaim bahwa bayi yang melalui gentle birth cenderung lebih tenang, si Icha lebih jago (dan lebih pedes :p) ngebahasnya, jadi saya lewat deh. Yang bikin kesel adalah ketika Neng A bilang, let me quote, “Nggak perlu takut akan yang namanya begadang, apalagi baby blues.”

Cuy.

Gimana ceritanya mau raise awareness tentang postpartum depression kalau sindrom baby blues aja di-discard dengan segitu gampangnya?

Standar Indonesia mengenai ibu ideal ya memang yang seperti Neng A ini kan, yang bahagia menyambut kelahiran anaknya, yang anaknya anteng, bisa menyusui dengan lancar dan rela. 

Ibu-ibu yang depresi, yang anaknya nangis siang malem, maunya digendong terus, yang for whatever reason ga bisa merasa bahagia dengan kehadiran anaknya–they must have done something wrong. Mungkin kurang hepi selama hamil. Mungkin lahirannya kurang gentle.

Terus kebayang ga kalau jadi ibu yang menderita PPD lalu dikomentarin, “Pasti ga menerapkan gentle birth ya.” Karena PPD (dan mental illness pada umumnya) masih mengundang stigma banget kan di sini.

Jadi ya hanya karena event B terjadi setelah event A, bukan berarti kita lantas bisa menarik kesimpulan event A menyebabkan event B. Ambil contoh lotus birth deh yang lagi kekinian banget. Kalau seseorang menerapkan lotus birth dan anaknya anteng, ya good for her. Tapi kalau orang ini bilang dia melahirkan dengan lotus birth, karenanya anaknya jadi anteng … mana sini paper yang mendukung klaimnya?

Udah ah. Saya kan lagi ulang tahun, kenapa malah nulis ginian. Lol.

Ketika Suami Dirawat

Pada saat ini saya sendirian di rumah, menulis di laptop tanpa ada anak kecil yang ngerecokin. Seminggu yang lalu, ini jelas akan terasa seperti kemewahan. Sekarang? Masih bisa disebut kemewahan in a way sih, tapi saya sakit leher.

Begini ceritanya.

Sekitar seminggu yang lalu, suami saya demam. Panasnya sempat turun setelah dikasih paracetamol, lalu naik lagi. Rabu pagi, kami ke IGD. Setelah diperiksa dan diberi obat, suami saya seger lagi. Kami pun nyoblos dan siangnya terbang ke Bangka buat … liburan. Lol. Abis tiket udah dibeli dan suami saya bilangnya udah sehat, ya udah.

Ternyata, selama di Bangka suami saya sakit lagi. Siang hari lemes, malam hari demam. Saya yang ngurusin pun ikut kurang tidur.

Foto berdua aja karena papanya Amel terlalu lemes buat manjat batu

Sepulang dari Bangka, kami langsung ke rumah mertua karena sudah terlalu malam untuk pulang ke Bogor. Suami saya naik turun panasnya. Besoknya sempat disuruh tinggal di rumah mertua dulu aja sampai agak enakan, tapi at the same time alergi Amel lagi kambuh, entah abis makan apa tuh anak.

Mata bengkak karena alergi

Karena obat alerginya ada di rumah Bogor, kami pun memutuskan pulang. Saya nyetir, sementara di kursi belakang Amel matanya bengkak dan papanya menggigil. Belum lagi hujan ga kira-kira derasnya dan jarak pandang saya pendek sekali.

Sesampainya di rumah, Amel langsung saya kasih antihistamin, sementara suami saya tidur. Menjelang sore, dua-duanya sudah tampak baikan. Malah saya yang kecapekan dan mulai batuk pilek. Saya pun minum Rhinos dan tidur lebih awal.

Sekitar jam 10 malam, saya dibangunkan oleh suami. Badannya panas lagi dan napasnya sesak. Kalau sudah urusan sesak napas, saya ga berani ambil risiko deh. Saya langsung packing baju dan menyuruh suami masuk mobil. Amel juga dibawa karena ga ada yang bisa dititipin dan saya ga mau mengulur waktu lebih jauh lagi untuk nunggu saudara datang. Lagi tidur, anaknya dibopong dan ditaruh di car seat. Dia sempat terbangun, tapi untungnya di tengah jalan tidur lagi.

Dengan panik dan hidung meler, saya nyetir ke rumah sakit. Ga kebayang betapa leganya ketika kami sampai. Saya langsung mengantar suami ke IGD, lalu memarkir mobil dan membopong Amel. Untungnya ada perawat yang melihat saya menggendong Amel yang lagi tidur dan bilang, “Anaknya ditidurin di sini aja dulu, Bu.” Jadi saya bisa mengurus administrasi tanpa harus repot menggendong.

Numpang tidur di IGD

Unsuprisingly, suami saya harus dirawat. Begitu sudah masuk kamar perawatan, suami saya menyuruh agar saya dan Amel pulang saja buat istirahat, ga perlu menemani di rumah sakit. Tapi saya sudah teler banget ga kuat nyetir. Lagi pula, ga kebayang capenya kalau besoknya saya harus nyetir balik ke rumah sakit melewati Jalan Baru Bogor yang macetnya oh em ji gara-gara lagi ada pembangunan tol. Jadilah malam itu saya dan Amel tidur di sofa di kamar perawatan suami saya.

Bocil kasian amat sih

Oke, tepatnya Amel doang yang tidur di situ. Kebayang ga sih sempitnya kaya apa? Udah miring-miring, tetap aja saya ditendang-tendang oleh Amel, ga berhasil tidur deh. Paginya saya sakit leher.

Amel bangun dengan ceria dan asik main-mainin tombol pengatur sandaran electric bed. Tapi menjelang siang, thank goodness dia dibawa oleh ayah saya supaya saya bisa fokus mengurus suami.

Hari ini mertua saya datang untuk gantian jaga sehingga saya bisa pulang dulu. Lumayan deh bisa tiduran dan oles-oles Counterpain; ini leher udah sakit banget setelah dua malam tidur di sofa.

Liquid matte lipsticks and other things I never get to share with my mother

​I can only recall that it rained all day and all night, and that when I asked my father whether the heaven was crying, he couldn’t bring himself to reply. Six years later my mother’s absence remained in the air around us, a deafening silence that I had not yet learned to stifle with words.

– Carlos Ruiz Zafon, The Shadow of The Wind

Before my mother passed away, the finality of death was a concept I could not fully grasp, no matter how many times I read The Fault in Our Stars and cried over Augustus Waters. It was like, yeah everyone will die and the universe will be cold and dark and empty, and so on and so forth–I mean, it all seemed hypothetical back then. 

So when the reality of my mother’s passing started to sink in, I was taken aback by, well–final–her abscence was. Like, you can’t talk to her, ever again. Want to show her a photo of your toddler wearing a cape to the carwash? Good luck finding someone else who cares. Find a liquid matte lipstick she would have loved? Too bad, she did not even get the chance to know what Colourpop is.

I’ve stopped believing in heaven/hell and rivers of honey years ago, but still, it felt somewhat cruel to say: that’s it, she simply stopped existing. It’s one thing to believe that nothing survives physical death; and quite another when it’s your own family member. And I understand why some people took comfort in the idea of an eternal garden. Whatever to make it less painful. Because it’s that difficult, losing your loved ones.

Following my mother’s passing, my husband and I started to wonder what if one of us dies first. You may get married again of course, I remember saying, I’ll be too dead to care. And that was about as far as the conversation went. We seem to have a knack for avoiding unpleasant topics.

Anyway, back to my mother. She always trusted me to make my own life decisions, whether it’s setting out to write a book or showing my hair. And I’m thankful for that, because I don’t want to blame my parents for everything that goes wrong in my life. It’s crazy, when I think about it now, just how much faith she had in me. Heck, I don’t have that much faith in myself. Just look at this tweet:

(I haven’t put down a single word since hitting 20k word count. Told myself I needed a break. But really, who am I kidding. What I really need to do is sit down and think of how to make the bits and pieces fall into place.)

I never get to share this motherhood experience with her. If she were here, I think we would have so many things to talk about. I think she would have loved liquid matte lipsticks.

It’s Not Much But It’s Home – Part 2

​Setelah 4 tahun ditinggali, akhirnya rumah saya direnovasi juga. Saya dan suami sudah bikin anggaran dan beli bahan-bahannya sejak awal tahun, tapi pekerjaannya sendiri baru dimulai sebulan yang lalu gara-gara kami di-PHP-in mulu sama tukang bangunan. Pas ngomongin rencana renovasi, doi iya-iya aja; janjinya mau muncul abis Lebaran, eh taunya kemudian bilang masih ada kerjaan di tempat lain. Janji lagi mau muncul bulan September, terus mundur lagi dan lagi. Sampe sekarang orangnya ga nongol-nongol, lol.

Karena bete nungguin, saya sempet nyari jasa tukang bangunan lewat Beres.id. Ada beberapa pihak yang berminat, tapi sebelum sempet interviu, mertua ngasih kabar ada kenalannya, sebut saja Pak K, yang mau ngerjain. Ya udah, akhirnya saya batalin ketemuan dengan tukang online. Setelah dibatalin, Pak K ngasih kabar mau pulang kampung dulu. Gah #+$&#+$_#&!

Anyway. Tapi akhirnya Pak K nongol juga dan rumah saya jadi direnovasi. Awalnya saya rada khawatir Amel rewel dan ga bisa tidur siang karena berisik. Apa lagi renovasinya mencakup wilayah dapur, jadi bakal susah masak. Tapi untungnya kekhawatiran saya tidak terbukti karena bocahnya ternyata suka sekali jadi mandor. Tidur pun tetap pulas. Makan tetap lahap meski menu seadanya.

Ini penampakan dapur saya sebelumnya:

Before

Setelahnya:

After

Apa bedanyaaaaa? Lol. Bagian situ emang ga diapa-apain. Baru bagian di samping meja makan yang berubah. Dindingnya dijebol dan dibuat menyatu dengan ruangan di sebelahnya supaya lebih lega.

Before
After
Meja kantin style

Selama beberapa hari saya sibuk nyari kitchen orgamization hacks. Tadinya saya pake Ikea SKUBB hanging shoe organizer buat menyimpan bumbu-bumbu, mi instan, plastic wrap dll. Gampang, hemat tempat, dan murah. Karena pocketnya cukup dalam dan banyak muatannya, saya sering asal cemplungin barang-barang ke situ. Pas beres-beres kemarin barulah saya sadar meski dari luar kelihatan rapi-rapi aja, di dalam pocketnya itu berantakan sekali, lol.

Ya udah terpaksa keluar duit sedikit (banyak deng) buat beli rak gantung, tempat bumbu, dan keranjang-keranjang.

Meja serbaguna hasil hunting di elevenia

Itu set pisau suami saya yang beliin. Pink bukanlah warna yang bakal saya pilih buat perkakas dapur.

Kabinet atas

Beberapa item terpaksa ditaruh di kabinet atas karena space yang masih tersisa ya cuma di situ. Sebenernya saya kurang suka dengan kabinet atas; posisinya terlalu tinggi buat saya raih dan males harus naik-naik kursi dulu. Pengen deh punya kitchen set yang ga perlu pake kabinet atas. Dan kitchen island. Dan stainless steel countertop sekalian. Mungkin buat renovasi 4 tahun lagi, lol.

Selain dapur, kamar mandi juga direnovasi, tapi ga saya foto soalnya banyak mainan Amel berserakan di bathtub. Dinding luar, yang tadinya kombinasi kuning dan pink (yang harusnya merah bata tapi entah kenapa jadinya pink, wtf) diganti dengan warna yang lebih sensible tapi sayangnya jadi kembaran sama tetangga seberang.

Masih ada puing yang belum diberesin, mohon mangap

Udah deh sekian aja turnya. Taman masih berantakan. Pengennya punya taman yang low maintenance aja deh soalnya nyapu halaman dan nyiram tanaman aja ga pernah, lol.